Wanita Yang Menyusui Saat Hamil

  • Whatsapp

Sebagian orang memiliki iktikad bahwa menyusui dikala hamil itu tidak diperbolehkan. Terkadang hal ini sampai menyebabkan kontradiksi dikala orang tua, mertua atau keluarga lainnya memaksa untuk menghentikan menyusui ketika seorang wanita hamil lagi dalam masa menyusui tersebut. Masalah inilah yang akan kita diskusikan dalam tabrakan pena singkat ini.

Hukum “Al-Ghilah” Menurut Syariat

Dari Judamah binti Wahb Al-Asadiyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ، حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ، فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ

“Sungguh aku tertarikuntuk melarang kalian dari melaksanakan ‘al-ghilah’. Maka saya melihat (orang-orang) Romawi dan Persia. Mereka melakukan ‘al-ghilah’ kepada anak mereka, dan tidak membahayakan (anak-anak) mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1442)

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala membuktikan perbedaan pertimbangan ulama tentang makna “al-ghilah” dalam hadits di atas. Sebagian ulama, di antaranya Imam Malik rahimahullah, berpendapat bahwa “al-ghilah” yakni seorang suami yang menyetubuhi istrinya dikala istrinya tersebut sedang berada dalam kala menyusui anaknya. Sebagian ulama lainnya menandakan bahwa yang dimaksud dengan “al-ghilah” ialah seorang perempuan yang menyusui ketika sedang hamil. [1]

Berdasarkan penjelasan di atas, hal ini menunjukkan bahwa menyusui dikala hamil itu diperbolehkan sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan niatnya untuk melarang hal tersebut.

Ketika menerangkan hadits di atas, An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

قال العلماء سبب همه صلى الله عليه وسلم بالنهي عنها أنه يخاف منه ضرر الولد الرضيع قالوا والأطباء يقولون إن ذلك اللبن داء والعرب تكرهه وتتقيه وفي الحديث جواز الغيلة فإنه صلى الله عليه وسلم لم ينه عنها وبين سبب ترك النهي وفيه جواز

“Para ulama berkata bahwa alasannya adalah hadirnya keinginan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk melarang ‘al-ghilah’) ialah ia khawatir bahwa langkah-langkah itu akan menyebabkan ancaman bagi anak yang sedang menyusu (minum ASI dari ibunya). Para ulama memberikan, ‘Para dokter (tabib) berkata (berdasarkan pengetahuan medis mereka saat itu, pen.) bahwa (dengan alasannya adalah al-ghilah), maka ASI (berubah) menjadi penyakit. Dan orang Arab tidak bahagia dan menjauhinya.’ Di dalam hadits tersebut terdapat penjelasan bolehnya melaksanakan ‘al-ghilah’ alasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarangnya dan pertanda alasannya tidak dilarangnya hal tersebut. Maka hal itu dibolehkan. [1]

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan,

لا نعلم حديثا عن النبي صلى الله عليه وسلم في النهي عن ذلك ، وإنما الذي ورد في ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم أراد أن ينهى عنه ، خوفا من أن يكون فيه ضرر ، ثم لم يفعل ، كما رواه مسلم

“Aku tidak mengetahui ada hadits yang melarang hal itu (menyusui saat hamil, pen.). Yang terdapat klarifikasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ia ingin melarang hal tersebut, karena khawatir hal tersebut menimbulkan bahaya, tetapi ia tidak melakukannya (tidak jadi melarangnya, pen.), sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Judamah binti Wahb Al-Asadiyyah radhiyallahu ‘anha …” (lalu ia menyebutkan hadits di atas, pen.) [2]

Menikahlah dengan Wanita yang Subur

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala ditanya,

“Aku telah menikah. Istriku melahirkan seorang anak. Akan tetapi, belum genap usia dua tahun, istriku melahirkan lagi yang ke dua kalinya. Apakah kami berdosa? Karena terdapat firman Allah Ta’ala,

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh …  (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,

“Tidak ada dosa bagi kalian jika terus-menerus memiliki anak (baca: sering hamil), bahkan kalian menerima pahala. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تزوجوا الودود الولود

Menikahlah dengan perempuan yang penyayang dan subur.”

Maksudnya, memiliki banyak anak. Adapun firman Allah Ta’ala,

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun sarat …  (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Tidaklah berlawanan dengan (proposal) memiliki banyak anak. Maksudnya, mungkin saja anak sebelumnya masih menyusu sesudah sang ibu hamil (lagi) untuk anak berikutnya. Dan sangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkeinginan untuk melarang dari melaksanakan ‘al-ghilah’, adalah wanita hamil yang menyusui bayi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Maka saya melihat (orang-orang) Romawi dan Persia. Mereka melakukan ‘al-ghilah’ kepada anak mereka, dan tidak membahayakan (belum remaja) mereka sedikit pun.” Dan Nabi pun tidak (jadi) melarangnya.” [3]

Kesimpulan

Boleh menyusui bayi dikala hamil, selama tidak ada faktor-faktor kesehatan (kondisi khusus) yang melarang hal tersebut, berdasarkan klarifikasi dokter andal dan terpercaya. Dalam keadaan-kondisi tertentu tersebut, hendaknya mengikuti klarifikasi dokter jago tersebut, apakah tetap meneruskan penyusuan ataukah tidak. [1]

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullahu Ta’ala berkata,

رضاع الطفل أثناء فترة الحمل يرجع إلى رأي الطبيب الثقة الحاذق فإن قال بأن إرضاع الطفل غير مضر بالجنين ، والرضيع فلا مانع منه ، وهو جائز. أما إن كان مضراً برضيعك أو جنينك فلا ترضعيه . والله أعلم .

“Masalah menyusui di tengah abad kehamilan dikembalikan terhadap anjuran dokter jago terpercaya. Jika dokter tersebut memberikan bahwa menyusui bayi tidak membahayakan untuk janin dan bayi yang sedang menyusu, maka tidak ada larangan, alias boleh. Adapun jikalau membahayakan untuk bayi yang sedang menyusu dan untuk janin, maka jangan menyusui. Wallahu a’lam.” [4]

***

Diselesaikan di malam hari, Rotterdam NL, 18 Shafar 1439/ 7 November 2017

Oleh seorang hamba yang sungguh butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Syarh Shahih Muslim, 10/16 (Maktabah Asy-Syamilah).

[2] https://islamqa.berita/ar/133325

[3] Fataawa Nuurun ‘ala Ad-Darb, 10/495.

[4] https://islamqa.info/ar/21203

 

 Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.