Tercelakah Memanggil Wanita Dengan Nama Aslinya?

  • Whatsapp

Mungkin ada diantara pembaca yang gila dengan pertanyaan di atas. Namun ada sebagian kaum Muslimin yang mengganggap kurang baik jikalau laki-laki mengundang nama orisinil dari seorang perempuan, dan mereka memanggil wanita cuma dengan nama kuniyah atau semacamnya. Oleh alasannya itu beberapa anutan dari Dewan Fatwa Islamweb ini semoga mampu menunjukkan pencerahan.

Fatwa Islamweb no. 280474

Soal:

Setahu aku, seorang pria boleh menyebut nama seorang wanita di tengah publik. Namun apa hukumnya seorang lelaki memanggil wanita dengan namanya dengan bunyi yang kencang karena dari jarak jauh?

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد

Sekedar menyebut nama perempuan atau menyebut nama aslinya, ini tidak mengapa. Silakan lihat fatwa nomor 194535. Adapun secara khusus tentang memanggil wanita dengan namanya di jalanan, maka ini kembali kepada etika kebiasaan.

Dan yang perlu diperhitungkan juga apakah hal tersebut akan menciptakan si perempuan tidak tenteram, atau memiliki potensi menjadikan kecurigaan terhadap si perempuan atau terhadap yang memanggilnya.

Jika memang tindakan tersebut tidak dianggap baik oleh lingkungan setempat, atau si perempuan merasa aib jika ada yang memanggil dengan cara demikian, maka seharusnya tidak dikerjakan.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://ajaran.islamweb.net/pemikiran/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=280474

Fatwa Islamweb no. 194535

Soal:

Salah seorang akhwat mengajukan pertanyaan terhadap saya tentang hukum memperlihatkan nama-nama perempuan. Hal ini terkait sikap aku yang menolak menginformasikan nama asli ibu saya terhadap seorang ustadz. Apa dalil haramnya menginformasikan nama orisinil seorang perempuan, ataukah itu sekedar bid’ah?

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد

Menampilkan nama ibu atau nama-nama perempuan tidaklah haram dan tidak juga bid’ah. Ini yaitu persoalan yang sudah dianggap lazimdikalangan penduduk di dunia Islam di zaman ini. Menyembunyi nama dari wanita-wanita yang menjadi mahram kita itu sekedar alasannya adalah mengedepankan perilaku aib. Namun kasus tersebut bukanlah duduk perkara yang haram secara syar’i. Karena Al Qur’an menyebutkan Maryam dengan namanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah) saat Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, bahwasanya Allah telah menentukan kau, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Al Imran: 42).

Demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mengundang perempuan dengan namanya. Beliau bersabda dalam hadits:

على رسلكما إنها صفية

tenanglah kalian berdua, ia ialah Shafiyyah!” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan Umar bin Khathab pun berkata:

عرفناك ياسودة

kami telah mengenalimu wahai Saudah…!” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan para ulama tarikh dan para ulama hadits pun lazimmenyebutkan nama para tokoh dan perawi perempuan dalam kitab-kitab mereka.

Dan dalam kitab Al Mu’jam Al Jami’ fii Tarajim Al Ulama wal Thalabatil ilmi Al Mu’ashirin karya Zuhair Asy Syawaish disebutkan:

 … ووالدتي زينب بنت سعيد رحمون ( وفي بعض بلادنا أَنَفةٌ من ذكر اسم الأم، والزوجة، والبنت )

“dan ibuku adalah Zainab bintu Sa’id Rahmun (di sebagian negeri kita, menyebutkan nama ibu, istri dan anak wanita yakni pujian)”.

Oleh karena itu maka tidak mengapa menyebutkan nama orisinil dari ibu, tidak mengapa pula kalau tidak inginmenyebutkannya. Namun duduk perkara ini tidak ada kaitannya dengan hukum syar’i (namun persoalan etika kebiasaan saja, pent.). Dan tidak semua duduk perkara yang ada dalam adab kebiasaan penduduk itu ada asalnya dari syariat. Sebagaimana juga tidak semua etika kebiasaan masyarakat itu bertentangan dengan syariat.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://aliran.islamweb.net/anutan/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=194535

Fatwa Islamweb no. 58514

Soal:

Salah seorang akhwat member forum diskusi di internet meminta terhadap semua member untuk mengubah nickname mereka menjadi nama orisinil. Bagaimana hukum syar’i kepada hal tersebut? Syukran sebelumnya.

Jawab:

لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد

Tidak terlarang memperlihatkan nama perempuan Muslimah dengan namanya yang orisinil, atau kuniyah-nya, atau julukannya, selama tidak berpotensi menimbulkan hal yang tidak dinginkan. Dahulu para shahabiyah ridwanullah ‘alahinna ajma’in saling mengundang dengan nama orisinil mereka dan nama kuniyah mereka.

Ada jikalau memang dikhawatirkan memiliki kesempatan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka hendaknya tidak menampilkan nama orisinil. Dan tidak ragu lagi bahwa memang menyembunyikan nama asli itu lebih terjaga dan lebih selamat serta lebih jauh dari kecurigaan dan dari keisengan orang-orang yang iseng.

Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

lewati apa yang meragukanmu terhadap apa yang tidak meragukanmu” (HR. Tirmidzi dan yang lainnya).

Wallahu a’lam

Sumber: http://anutan.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=58514

Kesimpulan

Dari beberapa klarifikasi di atas, mampu kita ambil pelajaran:

  1. Menyebut nama wanita dengan nama aslinya, menampilkan nama tersebut atau memanggilnya dengan nama tersebut hukumnya boleh. Ini dicontohkan oleh Al Qur’an, oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, para sobat dan para ulama. Serta telah lazimdipraktekan oleh penduduk Islam.
  2. Namun jikalau menyebut dengan nama orisinil atau menampilkannya atau memanggilnya dengan nama tersebut dianggap kurang baik dalam adab kebiasaan setempat, maka hendaknya tidak dijalankan.
  3. Jika dikhawatirkan timbul hal yang tidak diharapkan dengan menyebut dengan nama orisinil atau menampilkannya atau memanggilnya dengan nama tersebut, mirip dikhawatirkan jadi bahan keisengan orang-orang fasik atau muncul kecurigaan dari orang yang mendengar terhadap orang yang memanggil atau yang dipanggil, atau jika si perempuan menjadi aib, maka hendaknya juga tidak dijalankan.

Wallahu a’lam bish shawab.

***

Penyusun: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.