Sudah Ikhlaskah Saya??

  • Whatsapp

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ 

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang beliau niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, mkaa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya sebab mencari dunia atau alasannya adalah perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya terhadap yang beliau tuju”. (HR. Bukhori No.1 dan Muslim No. 1907)

Hadits tersebut telah sering kudengar, hingga alhasil saya pun hafal, namun sudahkah aku mengamalkan hadits tersebut dalam kehidupanku?

Ya, niat yang ikhlas dalam segala tindakan, baik perbuatan mubah maupun wajib. Mungkin lebih gampang menata hati untuk ikhlas saat perkara tersebut ialah perintah Allah, tetapi bagaimana dengan persoalan yang mubah? Seperti tidur, makan, bercengkrama, kuliah, dan banyak sekali acara keduniaan lainnya. Semoga dengan me-murajaah (mengulang_red) ilmu ini dapat mengingatkan hati yang gegabah untuk secepatnya dan selalu memperbaiki niat dalam banyak sekali langkah-langkah.

Meraih keikhlasan yaitu puncak dari segala kebahagiaan dalam kehidupan yang sarat dengan pernak-pernik, akan tetapi menjangkau keikhlasan yakni dilema yang sangat berat dan sukar, membutuhkan perjuangan berat, usaha dan jihad seumur hidup melawan riya’, sum’ah dan ujub, usaha yang tiada pernah berhenti. Pantas saja jikalau imam besar, Sufyan At-Tsauri rahimahullah pernah mengatakan,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي لأَنَّهُ تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Tidak pernah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku dari pada niatku, sebab niat senantiasa berganti-ubah” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam: 29).

Oleh akhirnya sangatlah pantas jika Allah menawarkan ganjaran yang sungguh besar bagi orang-orang yang tulus. Berikut ini adalah beberapa pelajaran ihwal lapang dada yang semoga dengannya hati menjadi lebih antusiasuntuk senantiasa meluruskan niat sebab Allah.

Ikhlas merupakan alasannya adalah diampuninya dosa

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ

Artinya, “Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati alasannya kehausan berputar-putar mengelilingi suatu sumur yang berisi air, datang-datang anjing tersebut dilihat oleh seorang perempuan pezina dari kaum bani Israil, maka wanita tersebut melepaskan khufnya (sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi air ke sepatu tersebut-pen) kemudian memberi minum kepada si anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni perempuan tersebut alasannya amalannya itu” (HR Al-Bukhari no 3467 dan Muslim no 2245).

Dalam hadits ini sangatlah nampak keikhlasan sang perempuan pezina tatkala menolong sang anjing. Kita bisa menyimpulkannya dari beberapa indikator berikut,

  • Tidak ada seorangpun yang melihat sang wanita tatkala membantu sang anjing, yang melihatnya hanyalah Dzat Yang Maha melihat adalah Allah.
  • Amalan yang cukup berat yang dikerjakan oleh sang wanita ini, di mana beliau turun ke sumur lalu mengisi air ke sepatunya kemudian memberikannya ke anjing tersebut. Bagi seorang wanita pekerjaan seperti ini cukup memberatkan. Akan namun terasa ringan bagi seorang yang lapang dada.
  • Wanita ini sama sekali tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari binatang yang hina seperti anjing tersebut, apalagi menghendaki balas jasa dari anjing. Ini memperlihatkan akan ikhlashnya sang wanita pezina tersebut.

Ibnul Qayyim memberi penjelasan dalam (Madaarijus Saalikiin 1/280-281), bahwa sinar tauhid yang ada dalam hati wanita tersebut mengkremasi dosa-dosa zina yang pernah dilakukannya, maka Allah pun mengampuninya.

Ikhlas mempertahankan seseorang sehingga tidak terjerumus dalam fitnah, terutama fitnah perempuan.

Allah berfirman tentang kisah nabi Yusuf dalam QS Yusuf : 24,

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya, “Sesungguhnya perempuan itu sudah bermaksud (melaksanakan tindakan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun berencana (melaksanakan pula) dengan perempuan itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, semoga Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlash (yang terpilih)”.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Jika hati mencintai Allah saja dan mengikhlaskan agama hanya untuk Allah maka hati tersebut tidak akan terfitnah dengan mengasihi selain Allah, terlebih sampai terbayang-bayang. Jika hati dan perkiraan tersibukkan dengan bayang-bayang semu tersebut, hal itu ialah indikasi berpengaruh kurangnya mahabbah (kecintaan) kepada Allah. Oleh akhirnya tatkala nabi Yusuf menyayangi Allah dan lapang dada terhadap Allah maka dia tidak tertimpa fitnah tersebut.” (Amroodul Quluub).

Tentunya pesan tersirat ini juga berlaku bagi muslimah, alasannya adalah diantara masalah yang menolong untuk menundukkan persepsi adalah dengan ikhlas, hanya mengharap paras Allah, merindukan perjumpaan nan indah dengan Ar-Rahim, dan cuma menghendaki balasan dariNya.

Betapa rendahnya harapan seorang muslimah yang hanya mengharap pujian, ucapan terima kasih, dan balasan dari seorang hamba yang lemah, yang beliau sendiri tidak bisa melepaskan berbagai kesulitan tanpa pertolonganNya.

Mendapat naungan Allah pada hari kiamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh kalangan yang hendak dinaungi oleh Allah di bawah naungannya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Imam yang adil, cowok yang meningkat dalam beribadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya terikat dengan masjid-masjid, dua orang pria yang saling mengasihi karena Allah, mereka berdua berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak untuk berzina oleh seorang perempuan yang berkedudukan dan elok namun beliau berkata “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seseorang yang berinfak lalu dia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir mengenang Allah tatkala bersendirian maka kedua matanyapun meneteskan air mata (HR Muslim no 660)

Di antara tujuh kelompok tersebut ada dua kelompok yang dinaungi oleh Allah sebab keikhlasannya. Golongan yang pertama yaitu seseorang yang beramal lantas beliau tidak menceritakannya kepada orang lain, sehingga tidak seorangpun yang mengenali sedekahnya tersebut, bahkan orang terdekatnya pun tidak mengenali hal itu. Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata, “Sikap ini ialah tanda kuatnya iktikad seseorang di mana cukup baginya bahwa Allah mengenali amalannya (sehingga tidak butuh dikenali oleh orang lain-pen-). Dan hal ini menawarkan sikap menyelisihi hawa nafsu, alasannya adalah hawa nafsu ingin supaya dirinya memperlihatkan sedekahnya dan ingin dipuji oleh insan. Oleh balasannya sikap menyembunyikan sedekah membutuhkan keimanan yang sungguh kuat untuk melawan hawa nafsu”. (Fathul Baari, 4/62). Golongan yang kedua yakni seseorang yang berdzikir mengingat Allah tatkala beliau bersendirian (baik bersendirian secara zahir, maupun bersendirian secara batin) lantas dia pun mengalirkan air matanya.

Mendapat pahala dari Allah untuk perkara duniawi yang dilaksanakan alasannya adalah mengharap wajah Allah.

Sungguh merupakan keberuntungan yang ahli bagi orang-orang yang lapang dada, alasannya adalah bukan saja amalan-amalan ibadahnya yang diberi pahala oleh Allah bahkan amalan-amalannya yang bersifat duniawi juga mendapat pahala di segi Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

Sesungguhnya tidaklah engkau bederma sesuatupun dengan berharap wajah Allah (ikhlash) kecuali engkau akan diberi ganjaran, bahkan sampai kuliner yang engkau suapkan ke ekspresi istrimu” (HR Al-Bukhari no 56 dan Muslim no 1628)

Betapa mengasyikkan hadits tersebut, hendaklah kita bergairah meraih ridho Allah dalam banyak sekali amalan, bahkan amalan duniawi.

Meniatkan makan dan minum supaya badan berpengaruh untuk beribadah pada Allah, meniatkan tidur untuk merencanakan tubuh mendirikan tahajud di sepertiga malam, meniatkan kuliah untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat yang dengannya mampu menolong orang lain, meniatkan patuh pada orang bacin tanah sebagai bentuk melakukan perintah Allah, meniatkan menuturp aurat sebagai bentuk melakukan perintah Allah dan alasannya aib padaNya, meniatkan datang ke majelis ilmu untuk memberantas kebodohan dalam diri semoga ibadah padaNya semakin khusyu’, dan banyak sekali perkara yang semua diniatkan alasannya adalah Allah semata.

Karena sesuatu yang mubah akan bernilai ibadah jika dijadikan sarana untuk merealisasikan yang wajib atau yang sunah. Sehingga dikala semua sudah diniatkan sebab Allah, insyaa Allah hati akan hening, pikiran menjadi lebih fokus, dan tidak mudah dikecewakan oleh makhlukNya, dan pastinya menerima bonus perhiasan berbentukpahala dari Allah.

Subhanallah, sangat indah syari’atNya.

***

 

Referensi :

  1. Rekaman Kajian Faedah-Faedah Ikhlas, Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
  2. 2013. http://rumaysho.com/ilmu-ushul/manfaat-fikih-dari-hadits-niat-3372. Yogyakarta
  3. 2011. www.firanda.com. Mekah

———————————————————-

Penulis: Ummu ‘Athifah Dian Pratiwi

Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel www.muslimah.or.id

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.