Sosok Suami Shalih

  • Whatsapp

Setiap perempuan tentunya berharap bisa bersanding dengan pria yang paham agama, sabar, romantis, perhatian pada istri dan banyak sekali tolok ukur ideal yang lain. Lelaki yang memiliki banyak keunggulan, keunggulan harta dan sifat mulia, menarik parasnya sekaligus ikhwan yang ittibaus sunnah. Sebuah obsesi yang sah-sah saja dan manusiawi. Namun, selaku insan lazimkita juga perlu bersikap realistis bahwa tak ada laki-laki sempurna tanpa cacat dan cela. Di sinilah kebesaran jiwa dan perilaku nyata perlu ditanamkan dalam dada bahwa laki-laki itu juga insan biasa yang memiliki segi kelemahan di samping kelebihan.

 

Tatkala Allah Ta’ala menakdirkan untuk mempersandingkan Anda dengan laki-laki yang kurang romantis, kaku, tidak “care”, dan banyak sekali kekurangan menurut sudut pandang Anda, yakinlah Anda tetap bisa meraih kebahagiaan. Jangan terlalu mendramatisir perasaan negatif, namun berupaya mencari celah kebaikannya. Di sisi lain, para perempuan pun sejatinya mempunyai hal yang sama sebagaimana kaum laki-laki. Di sinilah dalam institusi sakral rumah tangga, masing-masing individu saling melengkapi dan menutupi atau memaklumi segi-segi negatif. Dengan menimbulkan persyaratan adat dan agama selaku barometer utama agar rumah tangga barakah.

 

Dan sosok suami shalih yang sejati yaitu figur yang memperlihatkan pendidikan dan pengajaran agama Islam. Sebagai pemimpin rumah tangga yang mempertahankan keluarganya dari api neraka, mengajak pada ketaatan untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman :

يَاأَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ….” (QS. At-Tahrim : 6)

Adapun tafsir ayat di atas sebagai berikut :

  • ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu berkata: “Ajarkanlah agama terhadap keluarga kalian dan ajarkan pula budpekerti-budpekerti Islam.”
  • Qatadah rahimahullah berkata: ”Suruh keluarga kalian untuk taat kepada Allah, cegah mereka dari berbuat maksiat. Hendaklah mereka melaksanakan perintah Allah dan bantulah mereka. Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiat maka cegah dan laranglah mereka.”
  • Ibnu Jafir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Ajarkanlah keluarga kalian untuk taat terhadap Allah yang (hal ini) mampu menyelamatkan diri mereka dari api neraka.”
  • Imam asy-Syaukani mengutip perkataan Ibnu Jarir: “Wajib atas kalian untuk mengajarkan anak-anak kita agama Islam, serta mengajarkan kebaikan dan budpekerti-budpekerti Islam.”

(Tafsir ath-Thabari (XII/156-157) cet. Darul Kutub Ilmiyah. Tafsir Ibnu Katsir (IV/412-413), Tafsir Fathul Qodir  (V/253))

 

Demikianlah figur suami shalih yang harus menjinjing anak istrinya pada ketakwaan kepada Allah  Ta’ala . Suami yang mendidik akidah keluarganya, mengajarkan budbahasa dan budpekerti islami. Pria istimewa yang menanamkan kecintaan untuk senantiasa beribadah cuma terhadap Allah Ta’ala, laki-laki yang gemar mengingatkan keluarga berinfak shalih. Sosok mulia yang mampu menjadi panutan dalam kebaikan dan keshalihan.

 

Demikianlah betapa lelaki shalih akan mampu menimbulkan rumah tangganya barakah. Dan pria shalih yang bersanding dengan perempuan shalihah, insyaa Allah bahtera pernikahan akan menerima naungan dan rahmat Allah Ta’ala. Sungguh membahagiakan hati dikala cinta dan kasih sayang yang dibangun di atas pondasi dogma terhadap Allah Ta’ala dan meneladani sunnah-sunnah Rasul-Nya terwujud dalam biduk rumah tangga Anda.

 

Sejoli yang menikah dengan tujuan mempertahankan kesucian diri akan diberi pinjaman Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala akan menegakkan dan mengokohkan mahligai pernikahan yang dibangun sebab cinta terhadap-Nya. Menikah dengan laki-laki shalih ialah anugerah dan nikmat-Nya yang harus disyukuri. Sosok suami idaman adalah santunan Allah Ta’ala untuk perempuan-perempuan perindu surga. Sebuah wasiat indah bagi para pasutri: ”Apabila seorang hamba menikah terpenuhilah separuh agamanya, maka hendaklah beliau bertakwa terhadap Allah pada separuhnya lagi.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Dishahihkan al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 623).

Wallahu a’lam.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

 

Referensi

  1. Keluarga Sakinah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa, Bogor, 2007.
  2. Stop KDRT, Abu Hamzah ‘Abdul Lathif Al-Ghamidi, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta, 2010

 

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.