Salah Kaprah Dalam Menggunakan Jilbab

  • Whatsapp

Salah Kaprah Dalam Menggunakan Jilbab

Salah Kaprah Dalam Menggunakan Jilbab

Sebagian Muslimah salah kaprah dalam menggunakan jilbab. Mereka berpendapat menggunakan jilbab itu cuma jikalau pergi keluar rumah, atau memakai jilbab itu hanya ketika menghadiri program, atau semisalnya dan saat beraktivitas di lingkungan rumahnya, di teras dan halaman rumahnya, dia tidak menggunakan jilbab padahal ada laki-laki non mahram.

 

Perlu diketahui tolok ukur kapan menggunakan jilbab bukanlah soal dalam rumah atau luar rumah, bukan juga lingkungan rumah atau lingkungan luar, pergi atau tidak pergi.

 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha, beliau berkata,

 

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

 

“Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam dengan menggunakan busana yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jikalau sudah haidh (sudah baligh), dihentikan tampakdari dirinya, kecuali ini dan ini”, dia menunjuk parasnya dan kedua telapak tangannya.”” (HR. Abu Daud 4140, dalam al-Irwa [6/203] al-Albani berkata: “Hasan dengan keseluruhan jalannya”)

 

Asy-Syarwani berkata,

 

جَمِيْعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ: وَعَوْرَةُ بِالنِّسْبَةِ لِنَظْرِ الْأَجَانِبِ إِلَيْهَا

 

“Aurat wanita terhadap persepsi laki-laki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk muka dan telapak tangan, berdasarkan pertimbangan yang mu’tamad.” (Hasyiah asy-Syarwani ‘ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

 

Az-Zarqani berkata,

 

وَعَوْرَةُ الْحرة مَعَ رَجُلٍ أَجْنَبِيٍّ مُسْلِمٍ غَيْر الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ مِنْ جَمِيْعِ جَسَدِهَا

 

“Aurat wanita di depan laki-laki ajnabi yaitu seluruh badan selain tampang dan telapak tangan.” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)

 

Al-Juwaini menyampaikan:

 

الْأَجْنَبِيَّةُ فَلَا يَحِلُّ لِلْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى غَيْرِ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ أَمَّا

 

“Adapun perempuan ajnabiyah tidak halal bagi pria ajnabi untuk melihatnya kecuali tampang dan telapak tangan.” (Nihayatul Mathlab, 12/31)

 

Syaikh Abdurrahman bin Audh al-Jaziri menerangkan:

 

إِذَا كَانَتْ بِحَضْرَةِ رَجُلٍ أَجْنَبِيٍّ، أَوْ اِمْرَأَةٍ غَيْرِ مُسْلِمَةٍ فَعَوْرَتُهَا جَمِيْعُ بَدَنِهَا، مَا عَدَا الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ، فَإِنَّهُمَا لَيْسَا أَمَّا بِعَوْرَةٍ

 

“Adapun kalau ada lelaki ajnabi, atau wanita non muslim maka aurat perempuan yakni seluruh tubuh, kecuali tampang dan telapak tangan alasannya adalah keduanya bukan aurat.” (Al-Fiqhu ‘ala al- Madzahib al-Arba’ah, 1/175)

 

Lelaki ajnabi artinya laki-laki yang bukan mahram. Oleh alasannya adalah itu, jelas dari sini patokan kapan memakai jilbab ialah dari segi apakah ada laki-laki ajnabi atau tidak karena wanita tidak boleh membuka aurat sehingga tampakoleh laki-laki ajnabi.

 

Oleh alasannya itu, meskipun seorang muslimah ada di teras rumahnya sendiri, atau di halaman rumahnya, atau di lingkungan rumahnya, bila tampakoleh laki-laki ajnabi, wajib menutup aurat dan menggunakan jilbab. Bahkan di dalam rumahnya sekalipun, jika di dalam rumah ada laki-laki yang bukan mahram, wajib menutup aurat dan memakai jilbab di depan laki-laki tersebut.

 

Hendaknya hal ini menjadi perhatian serius bagi para muslimah karena tidak menutup aurat di hadapan pria ajnabi dengan sengaja tergolong dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

صَنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا :قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسُ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مَائِلَاتٌ مُمِيْلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبَخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لِيُوْجَدَ مِنْ مَسِيْرَةٍ كَذَا وَكَذَا

 

Ada dua golongan dari umatku yang belum pernah saya lihat: (1) sebuah kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang-orang dan (2) para perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala mereka mirip punuk unta yang miring (seperti benjolan). Mereka itu tidak masuk nirwana dan tidak akan mencium wanginya, walaupun wanginya nirwana tercium sejauh jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dalam bab al-libas wa az-zinah no. 2128)

Salah Kaprah Dalam Menggunakan Jilbab

An-Nawawi pertanda:

 

فَمَعْنَاهُ تَكْشِفُ شَيْئًا مِنْ بَدَنهَا إِظْهَارً لِجَمَالِهَا فَهُنَّ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ وَقِيْلَ: يَلْبَسْنَ ثِيَابًا (الْكَاسِيَاتُ الْعَارِيَاتُ)أَمَّا  رِقَاقًا تَصِفُ مَا تَحْتهَا

 

“Adapun [wanita yang berpakaian namun telanjang] maknanya ia menampakkan auratnya untuk memperlihatkan keindahannya. Maka merekalah wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Sebagian ulama memberikan, mereka yang menggunakan pakaian yang tipis sehingga terlihat apa yang ada di baliknya.” (Syarah Shahih Muslim, 17/191)

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin mengatakan:

 

 ” كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ “قَدْ فُسِّرَ قَوْلُهُ: بِأَنَّهُنَّ يَلْبَسْنَ أَلْبسَةَ قَصِيْرَةً، لَا تَسْتَرِ مَا يُجِبُّ سترَهُ مِنَ الْعَوْرَةِ، وَفَسَّرَ: بِأَنَّهُنَّ يَلْبَسْنَ أَلْبسَةَ خَفِيْفَةً لَا تَمْنَعُ مِنْ رُؤْيَةِ مَا وَرَاءَهَا مِنْ بَشْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَفَسَّرَت : بِأَنْ يَلْبَسْنَ مَلَابِسَ ضيقة، فَهِيَ سَاتِرَةٌ عَنِ الرُّؤْيَةِ، لَكِنَّهَا مبدية لمفاتن

 

“Para ulama menerangkan [wanita yang berpakaian namun telanjang] yakni wanita yang menggunakan pakaian yang pendek yang tidak menutupi aurat. Sebagian ulama menafsirkan, mereka yang memakai pakaian yang tipis yang tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di baliknya yakni kulit perempuan. Sebagian ulama menafsirkan, mereka yang memakai busana yang ketat, dia menutupi aurat namun memperlihatkan lekuk badan perempuan yang memfitnah.” (Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, 2/825)

 

 

 

 

***

Salah Kaprah Dalam Menggunakan Jilbab

 

Sumber : Dari berbagai Sumber

 

 

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.