Riya’ Dalam Ibadah

  • Whatsapp

Pertanyaan:

Bagaimana hukum ibadah yang ternodai riya’?

Jawaban:

Hukum ibadah kalau terjangkiti riya’ terbagi menjadi tiga macam.

1. Apabila faktor pendorong ibadah tersebut ialah murni riya’ sedari awal. Seperti orang yang bangun melaksanakan shalat terhadap Allah sebab ingin ditonton orang lain sehingga ia dipuji-puji atas ibadah shalatnya tersebut, maka ini membatalkan ibadah.

2. Apabila riya’ timbul di tengah-tengah ibadah. Yakni niatnya di permulaan ibadah yakni ikhlas sebab Allah. Kemudian datanglah riya’ di sela-sela ibadah. Maka ibadah tersebut tidaklah lepas dari dua kondisi berikut.

a. Awal ibadah tidak berafiliasi dengan simpulan ibadah. Maka ibadah yang permulaan hukumnya sah, sedangkan ibadah yang tamat hukumnya batal. Contohnya seseorang memiliki uang 100 riyal yang ingin beliau sedekahkan. Ia pun menyedekahkan 50 riyal dengan ikhlas. Lalu muncul riya’ pada sedekah 50 riyal sisanya. Dengan demikian, sedekah 50 riyal yang pertama hukumnya sah dan diterima, sedangkan sedekah 50 riyal yang kedua hukumnya tida sah alasannya adalah riya’ yang mengotori keikhlasan.

b. Awal ibadah berkaitan dengan simpulan ibadah. Maka seseorang tidaklah keluar dari dua keadaan berikut.

– Orang tersebut berusaha mengusir riya’ dan tidak merasa nyaman dengannya. Bahkan berusaha berpaling darinya dan membencinya. Maka riya’ tersebut tidaklah mempengaruhi ibadahnya sedikitpun. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم

Sesungguhnya Allah mengampuni bisikan hati dalam diri ummatku selama belum dilakukan atau diucapkan.”

– Orang tersebut merasa hening-damai saja dengan riya’ dan tidak berupaya menampiknya. Maka pada dikala itu batallah semua ibadahnya disebabkan awal ibadah bersambung dengan tamat ibadah. Misalnya seseorang mengawali shalat ikhlas karena Allah Ta’ala. Lantas, ia dilanda riya’ di rakaat kedua. Maka shalatnya pun batal semuanya karena keterpautan antara permulaan shalat dengan simpulan shalat.

3. Apabila tertimpa riya’ setelah berakhirnya ibadah. Maka riya’ tersebut tidaklah besar lengan berkuasa dan membatalkan ibadah. Sebab, ibadah tersebut telah sempurna dan sah sehingga beliau tidaklah rusak dengan datangnya riya’ sehabis itu.

Bukanlah termasuk riya’ jika seseorang merasa besar hati dikala ibadahnya dimengerti oleh orang lain. Karena kebahagiaan tersebut muncul sehabis selesainya ibadah. Bukanlah bab dari riya’ pula kalau seseorang merasa senang tatkala melaksanakan ketaatan. Sebab, itu yakni bukti keimanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من سرته حسنته وساءته سيئته فذلك مؤمن

Barangsiapa bersuka cita dengan kebaikannya dan bersedih dengan keburukannya, maka ia adalah seorang mukmin.” (HR. At Tirmidzi no.2165, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya perihal hal tersebut. Beliau menjawab,

تلك عاجل بشرى المؤمن

Itulah kabar besar hati yang disegerakan untuk seorang mukmin.” (HR. Muslim no.2642).

***

Diterjemahkan dari Fatawa Arkanil Islam karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah, cetakan ketiga, tahun 1437 H, hal. 186-188

Penerjemah: Ummu Fathimah

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.