Peristiwa Dari Sebuah Handphone

  • Whatsapp

Seorang ibu rumah tangga menderita sakit perut, dan mencicipi kekakuan pada tangannya. Ya beliau sering lupa makan gara-gara sibuk bisnis online. Didiagnosa alasannya adalah interaksinya yang sangat intens dengan handphone. Bahkan kadang kala pekerjaan rumah tangga dikerjakannya sambil berinteraksi dengan handphone, terlebih beliau mempunyai balita yang otomatis sungguh butuh perhatian.

Handphone  memang salah satu akomodasi dan yakni suatu yummy saat dimanfaatkan dengan bijaksana. Sebaliknya tatkala akomodasi itu dipakai secara berlebihan tanpa managemen yang tepat mampu menjelma petaka.

Qodarullah seorang laki-laki dikabarkan meninggal dunia dengan sebab ia membuka SMS yang masuk di handphone –nya tatkala di-recharge. Yang dikala itu tengah terjadi petir di angkasa. Dia terpental jauh dan terkena pemikiran listrik kemudian meninggal dunia.

Memang barang mungil ini seolah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita, dan kita perlu berhati-hati jangan sampai kita diperbudak oleh handphone. Dan dengan mempunyai handphone mampu menjadi ujian, akankah kita semakin mantab stabilitas imannya atau sebaliknya iman makin kendor lantaran handphone dipergunakan untuk hal-hal yang tidak penting.

Perbanyak syukur

Pernah mendengar perumpamaan kesal, “ handphone kok sering macet, error dan sering rusak ya”. Bisa jadi kita kurang hati-hati . Dalam memanfaatkanya, sering mempergunakan untuk dilema – perkara yang tidak urgent, banyak menulis atau membaca komentar – komentar negatif, tidak sadar sering menshare info atau berita – info yang tidak benar, sibuk ghibah alias ngegosip di medsos dll.

Saatnya kita instropeksi diri makin bertaqwakah kita dengan adanya handphone, atau sebaliknya rasa syukur kita kian menyusut karena waktu tersita untuk menikmati handphone dengan segala pernak perniknya.

Diantara wujud syukur seorang hamba adalah menjadikan handphone sebagai media tarbiyah dan berguru ilmu agama. Mengisi handphone –nya dengan materi- bahan ceramah, kajian dan ilmu yang berguna untuk dunia dan akhiratnya.

Handphone memang ladang prospektif untuk bisnis, namun perlu komplemen hati – hati dan tetap mengedepankan adab Islam dalam berbisnis. Perkara penipuan dan perampokan kadang-kadang terjadi bukan hanya dari yang bernilai ratusan ribu hingga puluhan juta. Memiliki handphone dengan segala aplikasinya yaitu bagian dari yummy Allah, maka seorang yang bertaqwa akan memperbanyak syukur dengan cara memanfaatkannya dalam hal kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Sebagaimana firman Allah dalam QS Ibrahim ayat : 7 (yang artinya): “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jikalau kamu bersyukur, pasti Kami akan memperbesar (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (enak-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.

Kedepankan rasa aib

Handphone mutakhir dengan akomodasi internet kerapkali menciptakan orang yang masih memiliki rasa aib jengah dan merasa tak nyaman dengan adanya gambar vulgar, perumpamaan – perumpamaan yang menjerumus pada pornografi dan aneka macam maksiat yang mengakibatkan dosa.

Perangkap syaiton dengan jaring-jaring yang menjeratnya sungguh samar tetapi pasti akan membidik hati manusia yang gegabah dari menginggat Allah.

Pesona-daya tarik indah sosok yang rupawan dan mempesona diekspos sedemikian rupa sampai menggiurkan orang yang tidak lagi mengedepankan rasa malu. Hadits masyhur yang maknanya:

Dari Abu Mas’ud, ia berkata, Nabi bersabda: “ Sesungguhnya diantara apa yang dijumpai insan dari perkataan kenabian yang pertama adalah, kalau engkau tidak aib maka berbuatlah apa yang engkau harapkan” (HR. Al Bukhari).

Dengan wasilah internet, betapa banyak kita dengar cerita tragis, seperti seorang istri yang mulai kepincut pria lain, atau seorang suami yang mulai berani bermesra ria dengan wanita lain, maraknya perselingkuhan dan terganggunya keharmonisan pasutri. Mengumbar panorama kepada sesuatu yang haram seakan sulit dielakkan saat kita membuka internet. Disinilah godaan dan bisikan syaiton gencar memprovokasi mata dan hati untuk berkelit, “ah cuma sebentar, tak apa – apa”. Begitulah musuh Allah itu terus mendera hati orang-orang beriman untuk bermudah-mudahan dan menilai sepele fitnah pandangan.

Namun dengan benteng rasa malu insyaAllah kita tidak mudah goyah dan tetap mempunyai akad bahwa meninggalkan sesuatu yang haram alasannya Allah pasti Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Bijak memanfatkan teknologi

Segala sesuatu yang dikerjakan secara berlebihan tanpa hukum akan menghadirkan mudhorot. Begitu pula dikala handphone dengan segala aplikasinya, ketika dioperasikan terus menerus tanpa ada keperluan cuma sekedar impian semata, bisa menjadikan efek negatif mirip menghipnotis otak sehingga kadang era orang yang terlalu sering memakai handphone muncul tanda-tanda pusing kepala, mata terasa sakit dan aneka macam keluhan yang lainya. Ada pula duduk perkara yang kadung kecanduan handphone dia akan susah meninggalkan kebiasaan tersebut, dan condong asik dengan dunianya bahkan mampu jadi dia cenderung hambar pada lingkungan sekitar.

Sebuah observasi menemukan bahwa pancaran EMC terkait dengan kebocoran albumin yang melewati dinding antara otak dan darah, dan terkait kerusakan syaraf yang meningkat sepadan dengan dosis derma (pancaran).

Ada beberapa tips semoga anda tidak maniak handphone diantaranya dengan menonaktifkannya pada dikala- dikala tertentu, seperti saat belajar belum dewasa, dikala tidur atau bagi usahawan online mempunyai jadwal-acara tertentu tidak 24 full time membuka handphone. Dengan managemen waktu yang bersiklus dengan baik pasti anda tetap tenteram memanfatkan handphone tanpa merasa diperbudak olehnya. Kita mesti mampu mengendalikan handphone, dan jangan pernah dikelola oleh handphone. Jadikan handphone selaku media pembelajaran diri menjadi pribadi yang lebih arif dan bertaqwa, kita mampu menjadi eksklusif muslim yang lebih santun, care, smart dan kualitas kebahagiaan hidup akan meningkat bahkan bisa mendekatkan diri pada keberhasilan hidup dunia alam baka.

Referensi:

1). Majalah fatwa V01 – 06 Th II, 1425H

2). Majalah nikah V012 No.8, Nov 2003

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

 

Artikel Muslimah.or.id

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.