Perbedaan Antara Wahyu Yang Harus Dibarengi Dan Pertimbangan Ulama

  • Whatsapp

 

Wahyu yakni hukum yang diturunkan terhadap Rasul-Nya dan Rasul tersebut menunjukkan serta menerapkan terhadap umat manusia, sedangkan ajuan ulama ialah hasil ijtihad para ulama yang berbeda-beda juga tidak wajib disertai serta tidak dianggap kufur dan durhaka orang yang menentangnya.

Selain itu, para ulama juga tidak memaksakan atau pun berkata, “Pendapat saya ini adalah sama dengan aturan Allah dan Rasul-Nya.” Akan tetapi mereka pasti berkata, “Kami telah berijtihad dengan usulan kami. Barangsiapa ingin mendapatkan pertimbangan ini, maka kami mempersilakan untuk mengambilnya. Sebaliknya, bila ada yang menolaknya, maka kami pun akan menghormatinya. Sungguh kami tidak akan pernah memaksakan kaum muslimin untuk menerima usulan kami.”

Lihatlah bagaimana Imam Abu Hanifah pernah berkata terhadap para muridnya, “Hai murid-muridku sekalian, ketahuilah ini adalah pendapatku. Barangsiapa menerima tawaran yang lebih baik dari pendapatku, maka kami akan menerimanya.”

Begitu pula dikala Khalifah Harun Ar-Rasyid, salah seorang penguasa Bani Abbasiyah, meminta kepada Imam Malik untuk memaksakan kaum muslimin mengikuti aturan yang ada di dalam kitab Al-Muwaththa’, maka Imam Malik dengan tegas menolaknya seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah kaum Muslimin kini sudah tersebar di seluruh penjuru negeri dan setiap masyarakat memiliki tradisi yang berlawanan dengan penduduk yang lain?!”

Sama halnya yang dikerjakan Imam Syafi’i yang melarang para pengikutnya untuk bertaqlid buta kepada pendapatnya dan merekomendasikan mereka untuk berpaling dari pendapatnya jika mendapatkan hadits yang bertentangan dengan pendapatnya tersebut.

Sementara Imam Ahmad bin Hanbal berusaha mencegah orang yang ingin menuliskan dan membukukan aliran-fatwanya sambil berkata, “Janganlah kamu bertaqlid kepadaku! Dan jangan pula kau bertaqlid terhadap si fulan dan si fulan! Tetapi, ambillah dari sumber mana mereka memperolehnya!”

Ketahuilah, seandainya para ulama dan imam mazhab –radhiyallâhu ‘anhum– itu mengenali bahwa pertimbangan mereka itu mesti diikuti, maka mereka niscaya akan melarangnya.

————————————————————————————–

Diketik ulang dari buku “Penyakit Ilmu” karya Abu Abdullah Muhammad bin Sa’id Raslan

Artikel muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.