Parenting Islami (14): Bersyukur Kepada Allah Ta’Ala, Apapun Jenis Kelamin Sang Anak

  • Whatsapp

Hendaklah setiap orang anyir tanah bersyukur dan ridha dengan rizki yang sudah Allah Ta’ala berikan. Baik diberikan lezat berbentukanak pria, maupun anak perempuan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50

“Dia menawarkan belum dewasa wanita kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak pria kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis anak pria dan perempuan (kepada siapa yang diharapkan-Nya). Dan Dia mengakibatkan tidak mempunyai keturunan (mandul), siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syuura [42]: 49-50)

Di antara para Nabi ‘alaihis salaam, ada yang cuma mempunyai anak wanita, adalah Nabi Luth. Ada yang cuma mempunyai anak pria, semisal Nabi Ibrahim. Ada pula yang mempunyai anak laki-laki dan wanita seperti Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ada pula yang tidak mempunyai keturunan, semisal Nabi Yahya.

Semua ini menawarkan kekuasaan Allah Ta’ala.

Kita pun tidak mengetahui, manakah yang lebih baik di antara keduanya, anak laki-laki atau anak wanita?

Allah Ta’ala berfirman,

آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kau tidak mengenali siapa di antara mereka yang lebih erat (banyak) keuntungannya bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kau menggemari sesuatu, padahal ia amat jelek bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 215)

Betapa banyak anak wanita yang lalu menjadi alasannya kebahagiaan orang bau tanah dan kerabatnya di dunia dan alam baka. Dan betapa banyak anak pria yang menjadi alasannya adalah kesengsaraan dan penderitaan orang tuanya.

Lihatlah Maryam ‘alaihassalaam, dan lihat pula Fathimah, anak wanita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maryam ‘alaihassalaam, melahirkan seorang Nabi yang shalih.

Sedangkan Fathimah melahirkan dua orang perjaka yang menjadi pemimpin penduduk nirwana.

Fathimah juga ialah salah satu pemimpin para wanita penduduk surga.

Apakah patut untuk dibandingkan, antara Maryam atau Fathimah (anak wanita) dengan anak Nabi Nuh ‘alaihis salaam (anak laki-laki)? Anak pria Nabi Nuh ‘alaihis salaam ialah seorang anak yang keras kepala dengan kekafirannya dan juga meninggal di atas kekafiran.

Sekali lagi, apakah pantas untuk dibandingkan antara Fathimah dengan anak pria Nabi Nuh?

Oleh sebab itu, apa pun jenis kelamin dari anak keturunan yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, bersyukurlah terhadap Allah Ta’ala. Tentunya disertai dengan perjuangan optimal untuk mendidik anak-anak kita tersebut biar menjadi eksklusif yang bertakwa dan takut terhadap Allah Ta’ala.

 

Diselesaikan menjelang maghrib, Rotterdam NL 6 Jumadil Akhir 1438

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.