Menjawab Syubhat-Syubhat Seputar Ucapan Selamat Natal, Bag. 3

  • Whatsapp

Syubhat 6: Para Sahabat Pernah Shalat di Gereja

Para penganut toleransi kebablasan menebar syubhat. Para ulama jelas melarang untuk ridha atau menghadiri ibadah orang non Muslim, namun ini disamarkan oleh mereka dengan membawakan pertimbangan para ulama perihal shalat di gereja.

Padahal pembahasan problem shalat di gereja ini maksudnya ketika di daerah yang tidak ada masjid.

Tentu saja berlawanan antara:

  • hukum shalat di gereja ketika tidak ada masjid, dengan
  • hukum masuk gereja untuk ikut dan mendukung ibadah orang Katolik

Hukum shalat di gereja ketika tidak ada masjid, ada khilaf di antara ulama:

  • Makruh, ini pertimbangan jumhur ulama.
  • Boleh jikalau tidak ada gambar atau patung, haram jikalau ada gambar atau patung. Ini proposal Hanabilah.
  • Haram secara mutlak, ini tawaran sebagian Hanafiyah.

Yang rajih, boleh jika ada kebutuhan mendesak. Dan hal ini pernah dilakukan oleh Umar bin Khathab radhiallahu’anhu. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyampaikan:

هو رخّص فيها عمر للحاجة، لأجل يحتاج المسلمون والجنود الكنائس إما لمطر وإما لبرد وإما لغير ذلك، فلا بأس عند الحاجة، وإلا فلا يأتونها.

“Umar bin Khathab menawarkan keleluasaan akan hal ini (shalat di gereja) alasannya kaum Muslimin dan para tentara ketika itu ada kebutuhan untuk shalat di gereja. Bisa jadi sebab hujan deras, atau alasannya adalah cuaca cuek, atau alasannya adalah karena lainnya. Maka tidak mengapa kalau ada keperluan. Adapun jika tidak ada keperluan maka dilarang”.

Maka ini berbeda dengan mengunjungi gereja untuk berpartisipasi dan mendukung ibadah orang Kristen. Allah Ta’ala berfirman perihal sifat ‘ibadurrahman (hamba Allah yang beriman):

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak melihat az zuur, dan jika mereka berjumpa dengan (orang-orang) yang melaksanakan langkah-langkah-langkah-langkah yang tidak bermanfaat, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS. Al Furqan: 72).

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan: “ az zuur adalah hari-hari peringatan kaum musyrikin” ( Tafsir Al Qurthubi ).

Syubhat 7: Semua agama sama

Jelas bahwa semua agama tidak sama. Hanya Islam lah agama yang haq dan diterima di segi Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan ia di alam baka termasuk orang-orang yang merugi“ (QS. Al Imran: 85).

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ

Sesungguhnya agama [yang diridhai] di sisi Allah hanyalah Islam“ (QS. Ali Imran: 19).

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah [gerangan] yang mampu menghalang-halangi keinginanAllah, bila Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?”” (QS. Al Maidah: 17).

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pun sudah membantah paham bahwa semua agama sama, atau pengertian bahwa yang penting beriman kepada Allah dan para Nabi serta Rasul, maka telah baik dan akan selamat di darul baka. Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار

Tidaklah seseorang dari umat ini baik dari kelompok Yahudi maupun Nasrani yang mendengar ajaranku lalu mati dalam keadaan tidak beriman terhadap pemikiran yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim).

Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam pernah melihat lembaran Taurat di tangan Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, kemudian beliau bersabda:

أمتهوكون يا ابن الخطاب؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية، لو كان موسى حيا واتبعتموه وتركتموني ضللتم

Apakah engkau tergolong orang yang gundah wahai Ibnul Khathab? Sungguh saya datang kepada kalian dengan membawa anutan yang putih higienis. Andaikan Musa hidup saat ini, kemudian kalian mengikuti syariat Nabi Musa dan meninggalkan syariatku, maka kalian akan kehilangan arah”.

dalam riwayat lain:

لو كان موسى حياً ما وسعه إلا اتباعي

Andaikan Musa hidup saat ini, tidak ada fleksibilitas baginya kecuali mengikuti syariatku”.

Maka Umar bin Khathab pun menyampaikan:

رضيت بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد نبياً

Aku telah ridha Allah selaku Rabb-ku, Islam selaku agamaku, dan Muhammad sebagai Nabiku” (HR. An Nasa-i, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 5308).

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah di antara ulama yang tegas membantah paham pluralisme ini. Beliau membuktikan:

ومن كان على دين اليهودية والنصرانية فهؤلاء يدّعون دين موسى وعيسى – صلوات الله وسلامه عليهما – وقد بدّلوا منه ، وقد أخذ عليهم فيهما الايمان بمحمد صلى الله عليه وسلم فكفروا بترك الايمان به واتباع دينه ، مع ما كفروا به من الكذب على الله قبله .

“Barangsiapa yang berada dalam agama Yahudi atau Kristen, maka mereka mengklaim mengikuti Musa dan Isa ‘alaihimas salam, padahal mereka telah mengubah-ubahnya. Mereka mengetahui adanya kewajiban beriman terhadap Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam tetapi mereka mengkufurinya dengan meninggalkan keimanan terhadap Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam dan tidak mengikuti fatwa beliau. Disamping kekufuran mereka karena telah mendustakan Allah sebelumnya”.

فقد قيل لي : إن فيهم من هو مقيم على دينه ، يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله ويقول : لم يبعث إلينا . فإن كان فيهم أحد هكذا فقال أحد منهم : أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله . لم يكن هذا مستكمل الاقرار بالايمان حتى يقول : وأن دين محمد حق أو فرض ، وأبرأ مما خالف دين محمد صلى الله عليه وسلم أو خالف دين الاسلام . فإذا قال هذا فقد استكمل الاقرار بالايمان

“Jika ada yang berkata: “di antara mereka ada yang masih berada pada ajaran asli agamanya, bersyahadat laa ilaaha illalla wa anna muhammadan abduhu wa rasuuluh“, tetapi mereka menyampaikan: “bahwa Muhammad tidak diutus untuk kami”.

Jawabnya, bila memang benar ada yang demikian di antara mereka, kemudian diantara mereka bersyahadat laa ilaaha illalla wa anna muhammadan abduhu wa rasuuluh, maka dia tidak sempurna pengakuan keimanannya sampai menyampaikan bahwa agama yang dibawa Muhammad itu benar dan wajib disertai. Dan hingga ia berlepas diri dari semua yang berlawanan dari pedoman yang dibawa Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam atau berlepas diri dari semua yang berlawanan dengan Islam. Jika dia mengatakan ini barulah legalisasi keimanannya tepat” (Al Umm, 6/158).

Maka waspada terhadap paham pluralisme yang berkeyakinan semua agama sama, yang membahayakan iktikad kaum Muslimin.

Syubhat 8: Mengapa perkataan yang simple saja dipermasalahkan?

Itulah bahayanya ekspresi, terkadang perkataan yang dianggap lazimoleh orang-orang ternyata itu perkataan yang berbahaya bagi agamanya dan dunianya. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إن الرجل ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يرى بها بأسا فيهوي بها في نار جهنم سبعين خريفا

Sungguh ada seseorang yang mengucapkan sebuah kalimat yang menciptakan Allah murka, ia menilai perkataan itu umumsaja, padahal hal itu menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam sejauh tujiuh puluh tahun perjalanan” (HR. Bukhari no.6478).

Dan kita lihat sendiri di dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang hidupnya berubah drastis menjadi terpuruk gara-gara kalimat singkat yang keluar dari lisannya. Maka dilema mulut bukan perkara remeh, wajib kita menjaga lisan kita. Hendaknya berkata baik atau membisu. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

من كان يؤمن بًالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ، ومن كان يؤمن بًالله واليوم الآخر فليصل رحمه ، ومن كان يؤمن بًالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari tamat, maka muliakanlah tamu. Barangsiapa yang beriman terhadap Allah dan hari final, maka sambunglah tali silaturahmi. Barangsiapa yang beriman terhadap Allah dan hari selesai, maka katakanlah yang manis atau diam” (HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47).

Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi taufik.

***

Sumber : Dari berbagai Sumber

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.