Menguak Tabir Mimpi

  • Whatsapp

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَا ِلكَ يَجْتّبِيْكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ الاََْْْحَادِيْثِ

Dan demikianlah Rabb-mu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari tabir mimpi – mimpi……” (QS. Yusuf : 6 ).

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam berimajinasi sebelum penaklukan kota Mekkah :

لقد صدق الله رسوله الرء يا بلحق لتد خلن المسجد الحرام ان شاءالله امنين محلقين رءوسكم ومقصرين لاتخافون فعلم مالم تعلموا فجعل من دون ذلك فتحا قريبا

Sesungguhnya Allah akan menunjukan terhadap Rasul-Nya, perihal kebenaran mimpinya dengan bantu-membantu. (Yaitu) Bahwa bekerjsama kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam kondisi kondusif, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa khawatir. Maka Allah mengenali apa yang tiada kau ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang akrab” (QS. Al-Fath : 27).

Mimpi manusia sangat berlawanan mimpi para Rasul dan Nabi berlainan dengan mimpi manusia biasa. Terkadang mimpi mampu menciptakan orang lebih bertaqwa, kabar bangga bagi orang beriman dan bisa pula alasannya adalah karena mimpi bisa menciptakan orang meninggalkan maksiat dan bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bisa menaklukkan Makkah setahun beliau berkhayal. Mimpi nabi Yusuf ‘Alaihissalam juga terwujud sesudah menunggu dari 30 tahun. Dan syari’at Islam telah sempurna, sehingga seseorang yang berimajinasi gila atau disuruh seseorang dalam mimpinya untuk melakukan amalan / ritual tertentu yang bertentangan dengan Islam maka bisa ditentukan mimpinya dari setan.

Ibnul Qoyyim berkata : “Mimpi merupakan permisalan yang dibentuk, malaikat yang ditugaskan Allah untuk mengurusi persoalan berimajinasi supaya orang yang berimajinasi mampu mengambil isyarat dari permisalan yang telah digambarkan baginya untuk mencocokannya dengan apa yang dialaminya dan mengungkapkan apa yang samar baginya” (I’lamul Muwaqqi’in: 1/ 252 ).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Kudhdri, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: ”Apabila salah seorang diantara kalian berimajinasi menyaksikan sesuatu yang dia senangi, ketahuliah bahwa yang demikian itu datangnya dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah atasnya dan hendaklah ia menceritakan mimpi tersebut. Dan jikalau ia bermimpi menyaksikan sesuatu yang tidak dia sukai, ketahuilah bahwa yang demikian itu hadirnya dari setan, maka hendaklah beliau meminta tunjangan dari kejahatan mimpi tersebut dan dia dihentikan menceritakannya terhadap orang lain, sebab hal itu tidak membahayakannya” (HR. Al-Bukhari).

Diantara Mimpi Para Sahabat

Abu Abdurrahman As – Sulami berkata,” Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Bakar. Tiba – tiba Salman menjauhi Abu Bakar kemudian Abu Bakar mengajukan pertanyaan kepadanya:” Wahai saudaraku kenapa engkau berpaling dan menjauh dariku ?. Salman menjawab,” Aku telah berimajinasi seakan – akan kedua tanganmu terikat ke lehermu. Abu Bakar berkata,” Allahu Akbar !, kedua tanganku tersadar dari keburukan sampai hari akhir zaman. Abu Bakar kemudian mengabarkan hal itu kepada Nabi shalallahu’alaihi wa sallam , lantas dia berkata :” Kedua tanganmu terhindar dari kejelekan sampai hari kiamat “.

Umar bin Khattab pernah berkata ,” Aku berimajinasi melihat seakan – akan seekor ayam ahli mematukku sekali atau dua kali, maka saya takwilkan bahwa seorang ‘ajam ( non arab) akan datang membunuhku”.

Humaid Ar –Ruasi berkata :” Aku menyaksikan Al-Kisai dalam mimpi kemudian akau berkata kepadanya,:” Kemana tempatmu sesudah mati?, Ia menjawab,” ke nirwana ! Aku bertanya :” Dengan amal apa engkau menerimanya ?. Ia menjawab ,” Allah merahmatiku dengan Qur’an, maka sesudah melihat mimpi itu saya mencintainya dan berdo’a untuknya”.

Barangsiapa bermimpi melihat hari kiamat telah terjadi disuatu daerah, pasti keadilan akan meliputi akan meliputi tempat tersebut kalau penduduknya terdzolimi, atau keadilan akan memvonis mereka , Jika mereka orang – orang yang dzolim.

Semoga Allah menimbulkan mimpi – mimpi kita selaku tanda kebaikan untuk selalu istiqomah di jalan Islam.

***

Referensi : Anda Bermimpi ‘Ulama’ Menjawab (terjemahan). Abdullah bin Muhammad Ath Thayyar, Penerbit Aqwam, Solo 2007

Penyusun: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.