Mengimani Adanya Mizan Di Hari Kiamat

  • Whatsapp
Mengimani Adanya Mizan Di Hari Kiamat
 

Mengimani Adanya Mizan Di Hari Kiamat

 

Penulis kitab Syarhus Sunnah, adalah Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Khalaf al-Barbahari rahimahullah memberikan,

 

الإِيْمَانُ بِالْمِيْزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يُوْزَنُ فِيْهِ الْخَيْرُ وَ الشَّرُّ. لَهُ كِفَّتَانِ وَ لَهُ لِسَانٌ.

 

“Iman kepada mizan di hari akhir zaman. Pada mizan ditimbang kebaikan dan kejelekan. Mizan mempunyai dua buah neraca timbangan dan lengan timbangan.”

 

Berikut ini klarifikasi Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan hafizhahullah tentang perkataan beliau di atas:

 

“Beriman kepada mizan tergolong di antara kasus yang penting dalam kepercayaan. Mizan yakni timbangan yang dipakai untuk menimbang amal hamba pada hari Kiamat.

 

Dalil perihal Iman terhadap Mizan

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَن خَفَّت مَوازينُهُ فَأُولٰئِكَ الَّذينَ خَسِروا أَنفُسَهُم بِما كانوا بِآياتِنا يَظلِمونَ ۝

 

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang mujur, dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang sudah merugikan dirinya sendiri, alasannya mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf : 8-9)

 

Dalil lainnya, ialah firman Allah Ta’ala,

 

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

 

Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka baka di dalam neraka jahanam.” (QS. Al-Mu’minun : 103)

 

Barangsiapa yang berat timbangan amal kebaikannya maka beliau akan bahagia. Begitupun sebaliknya, bila timbangan amal keburukannya lebih berat maka ia akan celaka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 

فَأَمّا مَن ثَقُلَت مَوازينُهُ ۝ فَهُوَ في عيشَةٍ راضِيَةٍ ۝ وَأَمّا مَن خَفَّت مَوازينُهُ ۝ فَأُمُّهُ هاوِيَةٌ ۝ وَما أَدراكَ ما هِيَه ۝ نارٌ حامِيَةٌ ۝

 

Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka ia berada dalam kehidupan yang membuat puas (bahagia). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka daerah kembalinya yakni neraka hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang sungguh panas.” (QS. Al-Qari’ah : 6-11)

 

Ayat di atas memberikan keadilan Allah Ta’ala. Sesungguhnya amal kebaikan dan kejelekan mereka (hamba) ditimbang dengan mizan yang mampu mereka saksikan dengan jelas. Mizan mempunyai dua buah neraca timbangan dan memiliki lengan timbangan. Amal kebaikan ditaruh pada neraca timbangan yang satu dan amal kejelekan ditaruh di neraca timbangan yang lainnya sebagaimana telah disebutkan di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.

 

Kaum mu’tazilah menyelisihi hal ini, mereka menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan mizan yakni penegakan keadilan. Mereka mengatakan, di akhirat tidak terdapat mizan yang faktual adanya. Keyakinan mereka batil alasannya mereka sekedar mengikuti logika mereka dan tidak mengikuti dalil-dalil syar’i. Mizan itu ada secara hakiki dan benar adanya.

 

Beratnya Timbangan Dua Kalimat Syahada

 

Al-Barbahari menyampaikan, “Pada mizan ditimbang kebaikan dan keburukan.” Maksudnya yang ditimbang yaitu amal-amal kebaikan dan kejelekan.

 

Mizan memiliki dua neraca timbangan sebagaimana yang terdapat di dalam berbagai hadis, ditaruh amal kebaikan di timbangan yang satu dan amal kejelekan di timbangan yang lainnnya. Sebagaimana dalam hadis bithaqah.

 

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ. ثُمَّ يَقُولُ :أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ :لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ :أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ . فَيَقُولُ : بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُول:ُ احْضُرْ وَزْنَكَ! فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ .قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ.

 

Di dalam hadis bithaqah (kartu) dikisahkan bahwa ada seseorang yang memiliki sembilan puluh sembilan catatan amal dan setiap catatan sejauh mata menatap berisi amal keburukan. Maka dibilang kepadanya, “Apakah kau mempunyai kebaikan?” Orang tersebut menjawab, “Tidak wahai Rabb.” Kemudian bertambah besarlah lembaran-lembaran tersebut dan orang tersebut menjawab, “Tidak wahai Rabb..” Dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya kau tidak akan dizalimi, bahkan kamu mempunyai satu kebaikan di sisi Kami.” Maka didatangkan bithaqah yang di dalamnya terdapat syahadat “La ilaha illallah” dan syahadat “Anna muhammadan rasuulullaah”. Bithaqah tersebut kemudian ditaruh di neraca timbangan yang satu dan catatan amal kejelekan ditaruh di neraca timbangan yang lainnya. Hasilnya ialah neraca timbangan bithaqah yang berisi dua syahadat lebih berat dari pada catatan amal yang berisi sembilan puluh sembilan amal kejelekan sehingga orang tersebut masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi [2639], Ibnu Majah [4300], Ahmad [2/213], dan Ibnu Hibban [225] dari hadis Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ [1776])

 

Hadis ini yaitu dalil sesungguhnya mizan mempunyai dua neraca timbangan yang digunakan untuk menimbang amalan hamba pada hari Kiamat.

 

Mizan juga mempunyai lengan timbangan, orang-orang Arab menamainya dengan qalbul mizan yang bisa miring ke arah kiri atau kanan. Apabila kedua neraca timbangan memiliki berat yang sama maka qalbul mizan akan sebanding. Apabila salah satu neraca timbangan lebih berat maka qalbul mizan akan miring.

Mengimani Adanya Mizan Di Hari Kiamat

Wallahu a’lam.

Sumber : Dari berbagai Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.