Memprovokasi Seorang Laki-Laki Beristri Untuk Menceraikan Istrinya

  • Whatsapp
Memprovokasi Seorang Laki-Laki Beristri Untuk Menceraikan Istrinya
 

Memprovokasi Seorang Laki-Laki Beristri Untuk Menceraikan Istrinya

Tidak boleh seorang perempuan memprovokasi seorang laki-laki beristri untuk menceraikan istrinya. Ini kasus yang telah diperingatkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 

لا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تَسْأَلُ طَلاقَ أُخْتِها، لِتَسْتَفْرِغَ صَحْفَتَها، فإنَّما لها ما قُدِّرَ لَها

 

Tidak halal seorang wanita menuntut suaminya untuk menceraikan saudarinya (madunya), untuk mengosongkan piringnya. Karena bagi dia sudah ada rezeki tersendiri yang ditetapkan oleh Allah” (HR. Bukhari no. 5152, Muslim no.1408).

 

Dalam riwayat lain:

 

ولا تَسْأَلُ المَرْأَةُ طَلاقَ أُخْتِها لِتَكْتَفِئَ صَحْفَتَها ولْتَنْكِحْ، فإنَّما لها ما كَتَبَ اللَّهُ لَها

 

Tidak boleh seorang perempuan menuntut seorang suami untuk menceraikan saudarinya (madunya), untuk memadai piringnya. Hendaknya dia tetap menikah. Karena bahwasanya Allah telah tetapkan rezeki kepadanya” (HR. Muslim no.1408).

 

Dalam riwayat lain:

 

وَلَا تَسْأَلِ المَرْأَةُ طَلَاقَ أُخْتِهَا لِتَسْتَكْفِئَ إِنَاءَهَا

 

Tidak boleh seorang perempuan menuntut seorang suami untuk menceraikan saudarinya (madunya), untuk memadai bejananya” (HR. Bukhari no.2723).

 

Hadits-hadits di atas meliputi tiga problem:

 

1. Calon istri kedua terlarang untuk memberi syarat kepada kandidat suaminya untuk menceraikan istri pertamanya

 

Oleh alasannya itulah, imam Al Bukhari dalam Shahih Al Bukhari membawakan hadits ini dalam bagian:

 

باب الشروط التي لا تحل في النكاح

 

“Bab syarat yang tidak halal dalam pernikahan”.

 

Demikian juga, Ibnu Bathal mengatakan:

 

دل نهيه عليه السلام المرأة عن اشتراطها طلاق أختها

Memprovokasi Seorang Laki-Laki Beristri Untuk Menceraikan Istrinya“Hadits ini memperlihatkan larangan Nabi ‘alaihissalam terhadap wanita, untuk mempersyaratkan calonnya semoga menceraikan saudarinya (istri pertamanya)” (Syarah Shahih Bukhari karya Ibnu Bathal, 7/273).

 

Dengan demikian, seorang wanita yang ingin menikahi pria beristri (selaku istri kedua) dilarang mempersyaratkan pria tersebut untuk menceraikan istri pertamanya. Dan andaikan pernikahan tetap berlanjut, syarat ini batal dan tidak wajib dipenuhi.

 

2. Seorang wanita terlarang memprovokasi seorang laki-laki beristri untuk menceraikan istrinya, sehingga lelaki ini nantinya menikah dengan wanita tadi

 

Sebagaimana klarifikasi An Nawawi rahimahullah dikala menjelaskan hadits-hadits di atas:

 

نَهْي المَرْأَة الأجْنَبِيَّة أنْ تَسْأَل الزَّوْج طَلاق زَوْجَته، وأنْ يَنْكِحها، ويَصِير لها مِنْ نَفَقَته ومَعْرُوفه، ومُعاشَرَته ونَحْوها

 

“Hadits ini melarang wanita ajnabiyah (yang bukan mahram dan bukan istri) menuntut seorang pria beristri untuk menceraikan istrinya. Lalu laki-laki ini menikahi perempuan tersebut. Sehingga perempuan tersebut mampu merebut nafkah, perlakuan baik dan kemesraan dari sang laki-laki dan semisalnya (dari sang istri pertama)” (Syarah Shahih Muslim, 9/193).

 

Ini yang disebut dalam bahasa kita selaku “perebut laki orang” atau pelakor. Allahul musta’an. Menjadi pelakor ialah hal yang terlarang dalam Islam.

 

3. Seorang istri dalam pernikahan poligami terlarang memprovokasi suaminya untuk menceraikan istrinya yang lain.

 

Sebagaimana klarifikasi Ibnu Hajar Al Asqalani, ia memberikan:

 

الأخت: الضَّرَّة، وفيه من الفقه: أنَّه لا ينبغي أن تسأل المرأةُ زوجها أن يطلِّق ضرَّتها لتنفرِد به

 

“Yang dimaksud ‘saudari’ dalam hadits ini yakni dharrah (madu dalam poligami). Dan salah satu fikih dari hadits ini adalah tidak selayaknya seorang perempuan memprovokasi suaminya untuk menceraikan istrinya lainnya agar beliau bisa berduaan saja dengan suaminya itu” (Fathul Baari, 11/502).

 

Adapun ungkapan “mengosongkan piringnya” yang ada dalam hadits, ini yaitu majaz (kiasan) yang mempunyai arti: merebut apa yang diberikan suami kepada istrinya. Jadi, apa yang didapatkan istri pertama dari suaminya, direbut oleh si kandidat istri kedua atau si istri kedua.

 

Badruddin Al ‘Aini rahimahullah menerangkan:

 

أَي: لتقلب مَا فِي إنائها وَأَصله من أفرغت الْإِنَاء إفراغا، وفرغته، إِذا قبلت مَا فِيهِ، لَكِن هُوَ مجَاز عَمَّا كَانَ للَّتِي يطلقهَا من النَّفَقَة وَالْمَعْرُوف والمعاشرة

 

“Maksudnya adalah untuk merebut apa yang ada pada bejana milik istri pertama. Karena dalam bahasa Arab, perkataan “afraghtul inaa’ ifraaghan” atau perkataan “faraghtuhu” maknanya: saya mengambil apa yang ada di sana.

 

Dan ini adalah majaz (kiasan) dari apa yang dimiliki oleh istri pertama, berbentuknafkah, perlakuan yang bagus serta kemesraan dari suaminya” (Umdatul Qari, 20/142-143).

 

Ringkas kata, perempuan manapun, baik yang belum dinikahi atau telah dinikahi, hendaknya tidak memprovokasi seorang laki-laki beristri untuk menceraikan istrinya. Dan siapapun itu, hendaknya berupaya menjaga keutuhan rumah tangga dari saudaranya sesama Muslim, jangan menjadi perusak rumah tangga orang.

 

Tentunya ada beberapa kondisi yang dikecualikan, dimana boleh menyarankan seseorang untuk menceraikan istrinya atau suaminya karena adanya maslahat yang besar. Seperti dalam dongeng Nabi Ibrahim kepada rumah tangga Nabi Isma’il ‘alaihimassalam.

 

Wallahu a’lam.

 

 

Sumber : Dari berbagai Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.