Mempertahankan Anak Dari Pengaruh Jelek Pertemanan

  • Whatsapp

Teman mempunyai dampak besar kepada fatwa, aksara dan kebiasaan anak, baik itu bersifat faktual maupun negatif. Seorang anak yang mulanya santun dan penurut mampu berubah bertingkah buruk seperti mengambil uang ibunya demi mentraktir sobat sepermainannya. Sebaliknya, dengan izin Allah ta’ala seorang anak yang berakhlak kurang baik mampu berganti drastis saat bergaul dengan sahabat-temannya yang shahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Seseorang berada di atas kebiasaan teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang diantara kalian memerhatikan siapa yang menjadi teman karibnya” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Dishahihkan al-Albani dalam silsilah ash-Shahihah no. 927).

Setiap orangtua tentunya sangat berharap anaknya bergaul dengan sobat-sahabat yang bagus dan shalih. Tetapi dikala kita mendapati buah hati qadarullah terpengaruh sahabat dalam hal-hal yang tidak terpuji, di bawah ini ada beberapa tips untuk menghadapi topan itu, insyaa Allah.

Bersikap bijak dan damai

Ini langkah agar emosi tak meledak-ledak sampai memperburuk suasana. Ajaklah anak berdialog sesuai kemampuan berpikir anak dengan bahasa santun yang dilandasi kasih sayang dan cinta. Ini akan menciptakan anak tenteram sehingga mereka tidak merasa di pemeriksaan. Ajaklah ia merenung bahwa anda tetap memperhatikannya dan mencintainya dan jangan memojokkannya namun carilah penyelesaian bijak sehingga anak akan bersikap jujur dan mau curhat dengan anda.

Dengan kedekatan emosi dan psikis dengan anak niscaya anak akan lebih bersikap terbuka sehingga dikala ada persoalan beliau akan berterus-jelas. Namun ketika kesalahan anak sudah melanggar syariat Islam mirip mencuri yang berlebihan, melukai orang lain, meninggalkan shalat tanpa uzur dan sejenisnya, maka orang bau tanah perlu bersikap tegas dalam menasehatinya. Dan acap kali perlu diberi konsekuensi seperti tak diberi uang saku atau diminta membenahi rumah. Namun demikian, prinsipnya bersikap lembut lebih diprioritaskan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan Dia menggemari kelemah lembutan dalam segala problem” (HR. Muslim no. 6.767)

Bekali dengan nilai Agama

Ketika nilai-nilai agama ditanamkan sejak dini, niscaya anak akan mempunyai pertahanan diri yang kuat, ini akan menghemat imbas buruk teman. Disinilah pentingnyaa figur orang bau tanah yang shalih sehingga anak tetap menyebabkan keduanya sebagai idola dalam hal kebaikan dan keshalihan. Dan orang renta hendaklah mampu menjadi sumber gosip bagi anak sehingga terjalin keakraban. Dan tanamkan doktrin yang kokoh sehingga anak merasa selalu diawasi Allah ta’ala. Ini akan menguatkan imun internal dan membangun dinding penghalang semoga terhindar dari dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bertakwalah terhadap Allah dimana saja engkau berada” (HR. At-Tirmidzi [1987], Musnad Ahmad [2/354]. Dihasankan Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir [1/81]).

Kenali sahabat-sahabat mereka

Orang amis tanah hendaknya memilihkan anak-anaknya sahabat yang shalih dan berasal dari keluarga baik-baik, jika memungkinkan selenggarakan pertemuan bareng sahabat agar betul-betul sobat itu menjinjing faedah dunia-alam baka.

Al Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, sebab mereka mempunyai syafaat pada hari kiamat” (Ma’alimut Tanzil 4/268)

Orangtua perlu memberi derma pada anak agar beliau bisa menjinjing diri ditengah sahabat-temannya. Begitu pun dengan teman-temannya, sesekali buatlah program bareng , permainan atau olahraga dan sejenisnya semoga anda mengerti apa dan bagaimana abjad sahabat sepermainan anak.

Berilah motivasi dan pesan tersirat ringkas agar anak anda dan sahabat-temannya selalu dalam kebaikan.

Cari lingkungan yang kondusif

Ketika efek buruk sudah hingga pada taraf membahayakan dari segi etika dan agama, maka penyelesaian praktisnya, cari lingkungan yang kondusif mampu pindah sekolah, dimasukkan ke pondok pesantren sehingga dengan izin Allah ta’ala beliau berganti santun, mulia akhlaknya dan shalih. Berilah perhatian tambahan dalam hal perhatian, anjuran dan perbanyak do’a supaya berubah jadi anak yang shalih.

Imam al-Ghazali berkata: “Seorang anak walaupun dibiarkan di awal pertumbuhannya, namun tak jarang dia akan berubah menjadi anak yang berakhlak buruk, pendusta, pendengki, pencuri, pengadu domba, peminta-minta, suka curiga, banyak tertawa, suka membohongi dan ajaib. Sesungguhnya beliau akan terpelihara dari semua sifat tersebut dengan didikan yang baik” (Ihya ulumuddin, 3/72).

Sampaikan faedah sobat baik

Orang tua harus berikhtiar memperlihatkan yang terbaik untuk anaknya, berilah pengertian bahwa hanya sahabat yang shalih yang mengajak pada Surga. Dengan bahasa yang gampang dicerna, pahamkan ancaman teman yang buruk agama dan akhlaknya yang hanya membuat kerusakan dan mendekatkan pada neraka. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata tentang mendidik anak ialah jihad, “Ini yaitu jihad fi sabilillah, ini ialah seutama-khususnya jihad ialah engkau berusaha untuk mendidik anakmu di atas ketaatan kepada Allah”.

Tanamkan di hati anak, bahwa sahabat yang buruk akan menenteng celaka di dunia dan darul baka. Teman yang suka berkata kasar dan kotor, suka membantah orangtua, mem-bully, malas menegakkan shalat, suka musik, gemar berbohong, mengambil barang orang lain adalah kawan yang mesti dijauhi. Kokohkan pengertian anak dengan senantiasa menasihati semoga anak selalu teringat serta telah umumada perasaan tidak suka dan benci dengan melaksanakan amal shalih dan ceritakan selalu betapa bahagianya mempunyai sahabat-teman yang cantik.

Metode ini perlu diulang-ulang biar tertanam di alam bawah sadarnya sehingga menjadi karakternya untuk selalu menentukan dan menyukai kebaikan untuk dirinya dan temannya.

Demikian sekilas tips biar bawah umur tetap dalam keadaan mulia kepercayaan, ibadah, dan akhlaknya dengan bersanding dengan mitra-kawan yang shalih. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi :

1. Cara Mendidik Salah, Anak Bermasalah (Terjemah), Abdirrahman Dhahi, PQS Sumber Ilmu Sukoharjo, 2020

2. Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Ilmu Asy-Syafi, Jakarta, 2015.

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.