Kesalahan-Kesalahan Seputar Waktu Shalat

  • Whatsapp

1. Kesalahan ketika mengqadha’ shalat yang telah lalu

Apabila ketinggalan shalat Maghrib misalnya, sebagian kaum muslimin mengqadha’nya bareng dengan shalat Maghrib pada keesokan harinya. Ini yakni suatu kesalahan yang besar, alasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمَ تَفْرِيْطُ إِنَّمَا التَّفْريْطُ فِى الْيَقْظَةِ, فَإِذَا نَسِىَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Tidak ada kelalaian ketika tidur. Sesungguhnya kelalaian itu terjadi cuma saat terjaga. Oleh alasannya itu, jikalau salah seorang di antara kalian lupa melaksanakan shalat ataupun tertidur, hendaknya beliau mengerjakannya selagi ingat.”1

Hal itu disebabkan alasannya adalah beliau tidak tahu kapan dirinya akan menemui ajal. Maka alangkah baiknya jikalau beliau mendahulukan hak Allah atas segala sesuatu.

2. Shalat pada waktu-waktu yang tidak boleh

Kadangkala, sebagian orang melakukan shalat nafilah (sunnah) pada waktu-waktu yang tidak boleh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini yaitu kesalahan yang jelas di kelompok mereka. Sebab, shalat nafilah itu tidak dibenarkan kalau dijalankan di setiap waktu. Akan namun, ada waktu-waktu yang dilarang mengerjakannya.

Dari Amr bin Abasah, beliau berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Nabiyullah, beritahukan kepadaku perihal shalat?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kerjakanlah shalat Subuh kemudian berhentilah mengerjakannya sampai matahari terbit dan naik sebab matahari terbit di antara dua tanduk setan.pada dikala itu, orang-orang kafir sedang bersujud kepadanya. Kemudian gres shalatlah, alasannya shalat pada waktu itu akan disaksikan dan dihadiri hingga ia akan membawa naungan dengan tombak. Kemudian berhentilah melakukan shalat dikala matahari tegak di atas kepalamu, alasannya adalah pada saat itu neraka Jahannam tengah dinyalakan. Jika engkau sudah mendapatkan bayangan, maka kerjakanlah shalat. Karena shalat pada dikala itu akan disaksikan dan dihadiri hingga engkau menjalankan shalat Ashar. Kemudian berhentilah shalat hingga menjelang Maghrib, sebab matahari terbenam di antara dua tanduk setan. Pada saat itu, orang-orang kafir bersujud kepadanya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, juga oleh Abu Dawud dan yang pertama ialah darinya. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, waktu malam manakah yang didengar (oleh Allah saat manusia berdoa, -ed.)? Beliau lalu menjawab:

جُوْفُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَصَلُّ مَا شِئْتَ, فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُوْدَةٌ مَكْتُوْبَةٌ حَتَّى تُصَلِّى الصُّبْحِ

Yaitu sepertiga final malam, lantas shalatlah sesukamu. Karena shalat pada waktu itu akan disaksikan dan dicatat (pahalanya) hingga engkau melaksanakan shalat Subuh”2

Sabda Rasulullah ‘tartafi’ (naik)’ dalam hadits tersebut pertanda bahwa larangan shalat sehabis Subuh tidak otomatis hilang dengan terbitnya matahari, namun mesti sesudah matahari naik. Hadits di atas menerangkan makruhnya melaksanakan shalat sunnah sesudah shalat Ashar dan shalat Subuh serta makruhnya melakukan shalat saat matahari terbit, berada di tengah (tengah hari), dan terbenam.

Uqbah bin Amir berkata, “Tiga waktu yang dihentikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami untuk melakukan shalat atau menguburkan orang yang meninggal dari kami, yaitu; dikala matahari mulai terbit hingga naik, ketika matahari berada di tengah (tengah hari), dan ketika matahari doyong hendak terbenam hingga terbenam.”3

Imam Asy-Sayukani berkata, “Mereka bertikai tentang shalat nawafil yang memiliki alasannya seperti shalat Tahiyat, sujud tilawah, sujud syukur, shalat Id, shalat Kusuf, shalat Jenazah, dan shalat-shalat yang diqadha’.

Menurut madzhab Imam Syafi’I beserta kelompoknya, semua shalat di atas diperbolehkan tanpa dimakruhkan. Adapaun menurut madzhab Imam Abu Hanifah dan madzhab lainnya, shalat-shalat di atas tergolong yang dilarang berdasarkan keumuman hadits.4

Adapun shalat-shalat fardhu yang sudah lalu, maka jumhur ulama berpendapat boleh mengqadha’nya kapan saja sampai pada waktu yang dihentikan mengerjakannya menurut sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ نَسِىَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَرَتُهَا أَنْ يُصَلِّيْهَا إِذَا ذَكَرهَا

Barangsiapa yang lupa melaksanakan shalat atau tertidur, maka kafaratnya adalah hendaknya beliau mengerjakannya ketika ia ingat.”5

Dalam suatu riwayat disebutkan, “Barangsiapa yang lupa melakukan shalat, maka hendaknya ia melakukan ketika beliau ingat.” Sebab Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِى

Dan dirikanlah shalat untuk mengenang-Ku“. (Thaha [20]: 14)6

Adapun wacana shlat Jenazah, apakah tergolong dalam keumuman larangan.

Al-Albani menyampaikan, “Wajib mengakhirkan penguburan mayit hingga keluar waktu yang dimakruhkan kecuali kalau dikhawatirkan mayitnya akan berubah.”7

***

Catatan kaki

1 Diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan Ibnu Majah, Shahih Al-Jami’ (2410).

2 Dikeluarkan oleh Muslim (I/294) dan Abu Dawud (2/1277).

3 Dikeluarkan oleh Muslim (1/293) Musafirin, dan At-Tirmidzi (3/1030)

4 Nail Al-Authar (3/110).

5 Bukhari, Muslim dari Anas, Shahih Al-Jami’ (6571).

6 Dikeluarkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa-I dari Abu Hurairah, Shahih Al-Jami’(6569).

7 Ahkamul Janaiz, karya Al-Albani (hal. 83).

Disalin ulang dari buku “400 Kesalahan dalam shalat“, Mahmud Al-Mishri, penerbit Media Zikir

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.