Kaidah-Kaidah Mengetahui Hakikat Istiqomah Bag. 1

  • Whatsapp

Berduyun-duyun manusia menuju hijrah mereka di jalan Allah, ada yang hijrah dari kekafiran menuju cahaya islam, adapula yang hijrah dari kefasikan menuju ketaatan di atas jalan al-quran dan sunnah. Siapapun yang jujur dalam hijrahnya, pasti mencicipi kebahagiaan, alasannya demikianlah, kebahagiaan itu cuma mampu diraih di atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya al-Musthafa.

Tugas berikutnya bagi seorang hamba yang telah hijrah menuju akidah kepada Allah adalah istiqomah.

Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah radhiallaahu ‘anhu berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah! Katakan kepadaku suatu perkataan wacana Islam yang tidak akan aku tanyakan terhadap seorangpun selain engkau.’ Beliau menjawab,

قل آمنت بالله ثم استقم!

Katakanlah, ‘Aku beriman terhadap Allah, kemudian istiqomahlah!’ (HR. Muslim).

Namun, kehidupan di dunia tidak pernah lepas dari ujian, tergolong cobaan dalam keimanan sesudah hijrah. Oleh sebab itu, hendaknya kita berupaya bertahan dengan istiqomah dalam ketaatan atas dasar al-quran dan sunnah.

Muncul banyak pertanyaan, bagaimana biar kita istiqomah dalam mengaruhi jalan hijrah? Bagaimana biar kita tetap istiqomah dalam ketaatan? Berikut kami sarikan pembahasan perihal pokok-pokok istiqomah dari kitab ‘Asyra Qawaaid Fil Istiqomah. Tulisan ini tidak secara pribadi membahas alasannya-sebab istiqomah, namun menuntun pembaca untuk mengerti kaidah-kaidah penting dalam istiqomah sehingga mampu menempuh alasannya adalah-sebabnya, biidznillah.

Kaidah pertama: Istiqomah adalah karunia dan pinjaman Allah

Allah Ta’ala firmankan dalam banyak ayat-Nya maupun risalah Nabi-Nya wacana salah satu kaidah yang penting untuk memahami dan merealisasikan istiqomah, adalah mengenali bahwa istiqomah yakni karunia dan bantuan dari Allah, bukan semata-mata alasannya usaha. Bahkan kita mesti meyakini bahwa seluruh dilema ada di tangan Allah, atas kuasa dan kehendak Allah. Allah akan menawarkan aba-aba berbentukistiqomah di atas jalan kebenaran kepada siapa yang Allah harapkan dan Allah pulalah yang memalingkan hamba dari jalan kebenaran kepada siapa yang Allah kehendaki. Yang harus kita yakini, keinginanAllah selalu mengandung pesan yang tersirat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Dan pasti Kami tunjukan terhadap mereka jalan yang lurus.” (QS. An-Nisa: 68).

Allah juga berfirman

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi klarifikasi. Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Ia inginkan ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nur: 46).

Ayat yang menerangkan bahwa istiqomah di atas jalan kebenaran ialah karunia dan derma Allah amatlah banyak dan disebutkan berulang-ulang dalam al-qur’an. Diantara faidahnya, supaya kita cuma bergantung dan berharap istiqomah kepada Allah saja.

Dalil lain yang memperlihatkan istiqomah ialah sumbangan dari Allah yakni; Rasulullah selalu memperbanyak (dan mengulang-ulang) berdo’a kepada Allah semoga Allah menetapkan hati ia di atas istiqomah. Beliau selalu berdoa,

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبَيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, menetapkan hatiku di atas agama-Mu.”

Tidak kita ragukan lagi bagaimana keimanan Rasulullah dan amal ia, bahkan ia sudah Allah jaminkan nirwana untuk-Nya. Namun, Rasulullah senantiasa memohon istiqomah kepada Allah dalam do’a-do’a ia. Tentu kita dengan kadar taqwa, ilmu dan amal yang amat jauh dari ia harusnya lebih banyak meminta kepada Allah. Kita dengan segala kelemahan dalam beragama, lebih rentan terkena syubhat dan syahwat harusnya lebih besar pengharapannya kepada Allah supaya Allah jaga kita dari penyimpangan dalam beragama dan istiqomah di atas jalan islam sesuai al-Alquran dan sunnah.

Ummu Salamah mengajukan pertanyaan terhadap Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Benarkah hati bisa berbolak-balik?” Rasulullah menjawab,

نعم، ما من خلق الله من بني آدم من بشر إلا أن قلبه بين أصبعين من أصابع الله فإن شاء الله عز وجل أقامه، وإن شاء أزاغه

Ya. Tidak ada satupun cipataan Allah dari golongan bani Adam melainkan hati mereka ada di antara 2 jari jemari Allah. Jika Allah berkehendak, Allah istiqomahkan beliau. Dan kalau Allah berkehendak, Allah akan sesatkan ia.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan al-Albani).

Allah Ta’ala berfirman,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang sudah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Jika kita menyadari, ternyata kita telah meminta keistiqomahan terhadap Allah sekurang-kurangnya17 kali dalam sehari dikala membaca surat al-Fatihah di setiap shalat fardhu. Dengan demikian, kita mengerti bahwa memohon istiqomah yaitu doa yang harus terus dipanjatkan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami yaitu Allah’ lalu mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah) …” (QS. Fusshilat: 30).

Hasan al-Bashri dikala membaca ayat tersebut, beliau berdo’a

اللّهُمَّ أَنْتَ رَبَّنَا فَارْزُقْنَا الإِسْتِقَامَةَ

Ya Allah! Engkaulah Rabb kami, rezkikanlah istiqomah kepada kami.” (Tafsir Ath-Thabari, 21/465).

Wallaahu a’lam, semoga berguna. In syaa Allah, kaidah lain tentang istiqomah akan dibahas di postingan-postingan muslimah.or.id berikutnya.

***

Disarikan dari kitab ‘Asyru Qawaaid Fil Istiqomah karya Syaikh Abdur Razzaq bi Abdul Muhsin Al-Badr, Daarul Fadhilah, cet. I 1431 H.

Referensi lain:

  • Terjemahan Al-Quran Al-Kariim
  • Terjemahan Matan Al-Arbain An-Nawawiyyah, Imam An-Nawawi, Pustaka Ibnu Umar

Penulis: Titi Komalasari
Murojaah: Ustadz Ratno, Lc
Artikel Muslimah.Or.Id

Leave a Reply

Your email address will not be published.