JakFar Bin Abi Thalib Sang Politisi Terkenal

  • Whatsapp

JakFar Bin Abi Thalib Sang Politisi Terkenal

JakFar Bin Abi Thalib Sang Politisi Terkenal

Setiap membuka lembar emas kala sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, selalu saja menciptakan hati tersentuh betapa mereka eksklusif mulia yang gigih membela Islam. Hingga Rasul-Nya mewasiatkan umat Islam semoga menjaga hak-hak mereka, mengetahui keistimewaan mereka dan melarang mencela para sobat.

 

Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu berkata, “Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam,  Sesungguhnya kedudukan salah seorang di antara mereka lebih baik dari amal kalian semuanya” (Ash Sharimul Maslul’ala Syatimir Rasul, hal : 570).

 

Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dalam bab keutamaan-keutamaan para Sahabat, dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: “Janganlah kalian mencela para Sahabatku. Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidaklah sampai (menyamai) satu mudd (satu cakupan dua tangan, pent) infak mereka, tidak pula setengahnya” (HR. Al-Bukhari, bab Fadhailush shahabah, Fathul Bari 7/21 hadits No. 3673 dan Muslim: Fadhailush shahabah 4/1967 hadits nomor 221 dan 222).

 

Diantara sosok yang lekat di hati beliau yaitu Ja’far bin Abi Thalib. Dia sungguh mirip dengan  beliau. Ja’far bin Abi Thalib diasuh oleh Abu Bakar Ash Shidiq sebelum Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam. Saat intimidasi kafir Quraisy bertambah gencar, Ja’far bin Abi Thalib  bareng istrinya Asma’ binti ‘Umais serta serombongan kaum muslimin berhijrah ke Habasyah. Mereka menerima pemberian Raja Najasyi sampai mampu beribadah terhadap Allah dengan tenang. Ketika orang-orang Quraisy mengenali keberadaan mereka, mereka menyuruh ‘Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk memprovokasi sang raja supaya mengusir kaum muslimin. Berkat taufiknya serta kecerdasan Ja’far bin Abi Thalib raja membenarkan dogma kaum muslimin.

JakFar Bin Abi Thalib Sang Politisi Terkenal

Di hadapan majelis para pejabat dan uskup dengan percaya diri dan sarat kesopanan Ja’far berkata, “Tuanku, dulu kami ialah suatu kaum yang kolot, kami menyembah patung-patung berhala, mengkonsumsi bangkai dan tidak secepatnya melaksanakan berbagai kejahatan. Kami umummemutus hubungan relasi, tak inginambil peduli dengan kewalahan tetangga, dan yang berpengaruh menindas yang lemah. Dalam keadaan demikian, Allah menyuruh terhadap kami seorang Rasul yang kami kenal baik keramahan keluarganya serta terjamin kejujuran, ketulusan dan amanahnya. Kami diajak untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan kepada watu-watu dan patung. Beliau memerintahkan kami jujur dalam berbicara, memberikan amanah, menyambung tali persaudaraan dan berbuat baik kepada tetangga. Beliau melarang kami berbuat keji, menghindari pertumpahan darah, tidak menyebarkan kata-kata fitnah, mengadu domba atau berdusta. Beliau juga melarang menggunakan harta anak yatim atau menuduh orang-orang yang tidak bersalah dengan kejelekan, mengabdi kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya kami yakin adanya dan mau mengikuti fatwa yang dibawanya. Kami menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan yang diharamkan. Ketika kaum kami melihat kami beriman kepadanya, mereka menyiksa kami dengan adikara untuk mengembalikan pada kebodohan, ialah penyembahan berhala. Penindasan mereka semakin menjadi-jadi seiring ketekunan kami untuk membenarkan pemikiran Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Tak ada satu pun mereka lewatkan untuk menganiaya kami. Bahkan mata pencaharian kami pun dihalang-halangi. Ketika sudah tidak tahan lagi dizalimi, ditindas dan dihalang-halangi dalam beragama, kami lari ke negeri Tuan. Kami mengutamakan negeri ini dibandingkan dengan lainnya, sebab kami sudah mendengar budi Anda. Kami berharap mampu bernaung di bawah pemerintah Tuan” (Dibawah Naungan Pedang, Abu Royhan, hal. 387 – 388).

 

Demikianlah untaian kata-kata Ja’far yang menciptakan Negus Ashamah kagum. Terlebih lagi saat beliau membaca surat Maryam ayat 1-15, penguasa itu menangis terharu dan membenarkannya. Akhirnya beliau melindungi kaum muslimin dan mereka tinggal di Habasyah dengan sarat kedamaian serta bisa melaksanakan pemikiran Islam. Utusan Quraisy itupun kesudahannya kembali dengan terhina dan semua hadiah dikembalikan.

 

Ada lagi keistimewaan Ja’far, dia sungguh penyayang dan menyantuni orang-orang miskin. Beliau pun mujahid handal yang berjihad dalam menegakkan kalimat tauhid hingga ke Roma. Mereka berhadapan dengan Raja Hercules yang memiliki tentara ± 200 ribu. Beliau bertempur habis-habisan hingga gugur selaku syuhada. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: Sungguh saya menyaksikan Ja’far bin Abu Thalib di surga. Ia memiliki dua sayap yang berlumuran darah. (Sirah Sahabat, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, halaman: 424).

 

Demikianlah simpulan dongeng Ja’far, pribadi yang fasih tutur katanya, sempurna argumentasinya dan sosok rendah hati yang juga sigap dalam berperang. Semoga kisah ini memberi inspirasi generasi muslim untuk lebih fokus meneladani para sahabat.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.