Harga Diri Seorang Muslimah

  • Whatsapp

Harga Diri Seorang Muslimah

Harga Diri Seorang Muslimah

Betapa banyak kita jumpai wanita muslimah zaman ini yang memuja-muja tokoh idolanya. Mirisnya, tak sedikit di antara mereka yaitu orang kafir.

 

Lantas, apakah arti kekafiran bagi orang yang beriman? Simak dongeng berikut ini.

 

——————————————————————————————————————–

 

Pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bareng 1.400 kaum muslimin berangkat menuju Mekah untuk menunaikan umrah. Di tengah perjalanan, mereka dihadang orang suku Quraisy. Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan suku Quraisy menyetujui gencatan senjata selama sepuluh tahun yang diketahui dengan Perjanjian Hudaibiyah.

 

Belum genap sepuluh tahun, Bani Bakar -sekutu suku Quraisy- melanggar kontrakHudaibiyah alasannya adalah menyerang Bani Khuza’ah yang yakni sekutu kaum muslimin di Madinah. Tentu saja Bani Khuza’ah segera meminta perlindungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Abu Sufyan -tokoh suku Quraisy yang ketika itu masih kafir- sungguh paham akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh Bani Bakar tersebut. Ia pun segera merencanakan diri kemudian berangkat ke Madinah untuk mempertahankan kesepakatanHudaibiyah dan memperpanjang era berlakunya.

 

Setibanya di Madinah, beliau secepatnya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Sayangnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak negosiasinya.

 

Abu Sufyan tak mengalah. Ia mengunjungi putrinya, Ummu Habibah, yang telah diperistri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia ingin putrinya membantunya melobi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Tatkala Abu Sufyan hendak duduk, Ummu Habibah cepat-cepat mengangkat ganjal milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyingkirkannya dari bapaknya. Abu Sufyan sangat terkejut melihat sikap putrinya tersebut.

 

“Nak, apakah tikar ini tak pantas bagiku ataukah aku yang tak patut duduk di atasnya?” tanya sang bapak.

 

“Ini yakni bantalan milik Rasulullah. Sedangkan engkau orang musyrik yang najis. Makanya saya tidak suka engkau duduk di alas milik Rasulullah.” jawab sang anak dengan tegas.

 

“Demi Tuhan, perangaimu kini bermetamorfosis buruk, wahai putriku.” keluh sang bapak.

 

“Tidak. Justru aku diberi isyarat oleh Allah terhadap pedoman Islam. Sedangkan engkau wahai bapakku, ialah tokoh dan pembesar kaum Quraisy. Mengapa engkau tidak bersedia masuk Islam? Malah menyembah watu yang tidak mampu mendengar dan melihat.” bantah sang anak.

 

Abu Sufyan pun pergi meninggalkan sang anak dengan kesal.

——————————————————————————————————————–

 

Begitulah semestinya perilaku seorang muslimah. Ia teguh dengan prinsip al-bara’ adalah berlepas diri dari orang kafir beserta tindakan kekafirannya. Ia pun merasa bangga dengan statusnya selaku seorang muslimah yang memiliki izzah (kemuliaan). Dengan demikian, beliau tak akan loyal terlebih mengagumi orang kafir maupun orang musyrik.

 

Semoga Allah merahmati ibunda kaum mukminin. Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha yang telah menyajikan keteladanan kepada kita semua.

Harga Diri Seorang Muslimah

Sumber : Dari berbagai sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.