Figur Ayah Bagi Anak Wanita

  • Whatsapp

 

“Ayahku selalu menunjukkan saya dan saudara-saudaraku support.” Demikian Mona menyampaikan ihwal ayahnya. Menurutnya, meskipun pendidikan ayahnya cuma sampai sekolah menengah saja, tetapi dia bersedia untuk duduk dan mendengar apa yang ditulisnya. ”Aku sangat mencintainya dan aku melihatnya sebagai teladan selaku ayah yang bagus dan sarat pemahaman.” (Dikutip dari buku “Puber Tanpa Gejolak”, Dr. Akram Ridho, hlm. 64)

 

Seorang anak wanita berumur 15 tahun menulis curahan hatinya.

“Ayahku tercinta ….

Wahai orang yang termahal dalam hidupku, betapa saya mencintamu dan betapa aku berharap engkau juga ikut mencicipi cinta ini, namun bagaimana saya bisa bersikap, sementara akut tidak menyaksikan engkau, kecuali beberapa menit saja. Itupun cuma jatah waktuku dengan engkau selama engkau berada di rumah. Tidaklah engkau ketahui wahai ayah, betapa saya harus akan satu waktu untuk menemuimu di ketika engkau pulang dari pekerjaanmu, biar aku mampu mencicipi bahwa kasih sayangmu dan supaya saya mampu bercengkerama denganmu dan menimba pengalaman-pengalaman dan pesan tersirat darimu. Dari anakmu yang mencintamu.” (ibid, hlm. 55-56)

 

Demikianlah, betapa penting dan besar impian seorang gadis yang tengah menginjak masa akil balig cukup akal terhadap sosok ayah yang sarat perhatian dan cinta. Sering terjadi seorang sampaumur putri yang tidak  mendapatkan limpahan kasih sayang seorang ayah, beliau akan mencari cinta dan kasih sayang sahabat prianya atau orang lain yang mampu memberinya support, motivasi, dan menyimak curhatnya. Hal ini sungguh riskan dan bisa membuatnya terjerumus pada pergaulan dan mampu membuatnya terjerumus pada pergaulan yang menyimpang ketika beliau tak memiliki sandaran akidah dan kepribadian yang kuat dan alasannya periode berakal balig cukup nalar adalah abad yang labil transisi sehingga beliau gampang terpengaruh banyak sekali hal yang tampaknya prospektif kebahagiaan.

 

Di sinilah perlu kedekatan spiritual, emosi, dan juga fisik dengan seorang ayah. Bukankah ayah idealnya senantiasa erat dengan anak sehingga anak merasa aman, tenteram, dan bisa berinteraksi serta terjalin komunikasi timbal balik yang harmonis. Seorang gadis akan terarah kehidupan darul awet dan dunianya ketika ayahnya senantiasa bersahabat hatinya. Ayah ialah figur teladan anak dan keluarga  sehingga dengan kondisi ini, pendidikan Islam akan berjalan sinergis dan mampu memberdayakan anak sehingga menghemat aneka macam problematika remaja.

 

Lantas, apa akibat sebagian ayah berkenaan dengan hal apa yang harus diaktualisasikan dengan anak gadisnya?

Ayah perlu menenun jaring cinta supaya hubungannya mesra dengan anaknya, mirip membangun dialog kasatmata dengan anak, memberi kepercayaan, cinta, keleluasaan yang bertanggung jawab. Memiliki anak perempuan yakni salah satu nikmat Allah Ta’ala yang harus disyukuri. Kewajiban orang bau tanah yaitu mendidik dan membimbingnya supaya ia menjadi hamba Allah Ta’ala yang bertakwa, emosinya terkendali, kepribadiannya berpengaruh dan Islami, berakhlak mulia, dan bisa menyelesaikan problematika hidupnya.

 

Menciptakan akomodasi obrolan yang kontinu dengan anak gadisnya, akan banyak memiliki kegunaan bagi relasi anak dan orang tuanya maka bagi anak gadis sangat tidak yakin meminta balasan atau mengemukakan semua problemnya langsung kepada ayahnya. Dengan demikian, ayah mampu menjawab atau mendiskusikan alasannya, motif, dan solusi bagi segala macam problem. Pada karenanya, mereka akan saling sepakat terhadap solusi-solusi yang mampu diterima kedua belah pihak.” (ibid, hlm. 64-65)

 

Ayah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk corak dan warna anak di kurun depan. Anak gadis yang telah biasa dekat dan erat dengan ayahnya, insyaa Allah beliau akan gampang diarahkan ayahnya, mempunyai rasa yakin dan kepribadian positif, tidak gampang stres/frustrasi, memandang diri dan kehidupannya dengan baik, bertanggung jawab dan optimis. Sebaliknya, ketika beliau tak memiliki figur ayah yang bagus atau keluarganya broken home maka dia mudah galau lagi frustasi, kepribadiannya labil, emosinya kurang terkendali, serta condong mencari kesenangan/perhatian orang lain atau sebaliknya ia menjadi introvert, dingin, dan tak memiliki sensitivitas pada orang lain.

 

Terakhir … seorang ayah harus menyadari, ada kabar gembira ihwal anak wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ أَوْ ابْنَتَانِ أَوْ أُخْتَانِ فَأَحْسَنَ صُحْبَتَهُنَّ وَاتَّقَى اللهَ فِيْهِنَّ دَخَلَ الْجنَّةَ

Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan atau tiga saudara perempuan, dua orang anak wanita atau dua saudara wanita kemudian dia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengasuh mereka maka baginya nirwana. “ (HR. At-Tirmidzi, Kitabul Birri Washshilah no. 1839, Abu Daud, Kitabul Adab no. 4481, dan Ibnu Majah, Kitabul Adab no. 3659, dishahihkan al- Albani dalam Shahih AtTarghib no. 1973)

 

Referensi

  1. Puber Tanpa Gejolak, Dr. Akram Ridho, Qisthi Press, Jakarta 2005.
  2. Tahapan Mendidik Anak, Jamal Abdur Rahman, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.