Cerita Menawan Al Hasan Al Bashri

  • Whatsapp

Al Hasan Al Bashri (wafat 110H) yaitu seorang ulama tabi’in dari kota Madinah, yang berguru terhadap beberapa sobat Nabi. Diantaranya An Nu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik radhiallahu’anhum.

Al-Hasan Al-Bashri selalu duduk di dalam majelis untuk membuatkan ilmu agama. Adapun Habib Al-Ajami duduk dalam majelisnya sendiri dimana jago dunia dan jual beli mendatanginya. Dan dia lalai dengan majlis Al-Hasan Al-Bashri, dan tidak menoleh sedikitpun dengan apa yang disampaikan oleh Al-Hasan Al-Bashri.

Hingga sebuah hari ingin mengetahui apa yang disampaikan oleh Al-Hasan Al-Bashri. Maka dibilang kepadanya: “Dalam majlis Al-Hasan Al-Bashri diceritakan ihwal nirwana, neraka dan manusia diberi semangat untuk mendapatkan akhirat, dan ditanamkan perilaku zuhud kepada dunia (memfokuskan segala karunia Allah untuk alam kekal)”. Perkataan ini menancap dalam hatinya, kemudian dia pun berkata: “Mari kita kunjungi majelis Al-Hasan Al Bashri!”.

Berkatalah orang-orang yang duduk dalam majelis terhadap Al-Hasan Al-Bashri: “Wahai Abu Sa’id, ini yaitu Habib Al-Ajami menghadap kepadamu, nasehatilah dia”. Lalu Habib Al-Ajami menghadap Al-Hasan Al-Bashri dan Al-Hasan Al-Bashri menghadap kepadanya. Lalu beliau menasehati Habib Al-Ajami, ia ingatkan dengan nirwana, kemudian ditakut-takuti dengan neraka, beliau mengasung untuk melakukan kebaikan, ia ingatkan untuk berlaku zuhud di dunia.

Maka Habib Al-Ajami pun terpengaruh dengan proposal itu, lalu ia berinfak 40 ribu dinar. Dan beliau pun berlaku qana’ah (menerima) dengan hal sedikit, dan ia terus beribadah kepada Allah sampai meninggal dunia. (Hilyatul Aulia 6/149, Siyar A’lamin Nubala’ 6/144, dengan sedikit penyuntingan).

Demikianlah sekelumit cerita elok Al-Hasan Al-Bashri dalam berdakwah menasehati manusia untuk bersegera dalam kebaikan dan ketaqwaan. Ungkapan nasehatnya begitu mengena dan bisa membangkitkan motivasi orang lain untuk bersegera menyongsong kebenaran. Apa rahasianya?

Dalam kisah ini ia juga diketahui selaku sosok yang mahir dalam berdakwah. Terbukti dengan sifat lemah lembut menasehati Habib Al-Ajami. Rifq artinya lemah lembut dalam perkataan dan tindakan serta senantiasa mengambil yang gampang (Fathul Bari 10/449).

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الرِّفقَ لا يَكُونُ في شيءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلا يُنْزَعُ مِنْ شَيءٍ إِلَّا شَانَهُ

Sesungguhnya rifq, tidak ada pada sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidak hilang dari sesuatu kecuali merusaknya”. (HR. Muslim no. 2594).

Beliau sosok teladan

Dikatakan terhadap salah seorang dari sahabat Al-Hasan Al-Bashri: “Apakah sesuatu yang menimbulkan Al-Hasan Al-Bashri meraih kedudukan seperti ini? Padahal diantara kalian terdapat para ulama dan jago fiqih? Teman Al-Hasan Al-Bashri pun berkata: “Adalah Al-Hasan Al-Bashri jika memerintahkan perkara maka ia yaitu seorang manusia yang paling mengamalkan kepada apa yang ia perintahkan, dan jikalau dia melarang dengan sebuah kemungkaran maka ia ialah seorang insan yang paling jauh meninggalkan larangan itu” (Talbis Iblis, Ibnu Jauzi hal. 68).

Beliaulah penasehat yang jujur, menasehati manusia dengan amalannya dan mampu menjadi acuan dalam masyarakat.

Salah seorang ulama ditanya mengapa perkataan salafus shalih lebih bermanfaat dari perkataan kita? Maka ia pun menjawab: “Karena mereka mengatakan untuk kemuliaan Islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridha Allah yang Maha Pemurah, sedangkan kita menyampaikan untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhaan makhluk”. (Shifatu Shafwah, Ibnul Jauzi 4/122).

Semangat untuk memberi usulan

Al-Hasan Al-Bashri mampu mencerminkan hakekat tawaran dengan pesan yang tersirat sebagaimana yang didefinisikan Al Khathabi: “Nasehat adalah satu kata yang dipakai untuk mengungkapkan cita-cita baik untuk orang yang dinasehati” (Ma’alim Sunan, 4/125).

Beliau yaitu ulama rabbaniyyin yang selalu memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran. Dengan sarat tawadhu‘ dan hati lapang menyeru pada perintah-Nya dan kefasihan ucapannya mampu menyemangati orang lain untuk menerima seruannya. Beliau figur yang berilmu dan bijaksana sampai membuat orang lain kepincut untuk menyambut dakwahnya. Allah Ta’ala berfiman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru terhadap Allah, melakukan amal shaleh dan berkata : “Sesungguhnya aku tergolong orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushilat: 33).

Demikianlah kisah singkat Al-Hasan Al-Bashri dalam berdakwah. Semoga di era fitnah ini lahirlah ulama-ulama sunnah yang bisa berdakwah dengan nasihat dilandasi ilmu syar’i dan senantiasa ikhlas di jalan Allah Ta’ala.

Penulus: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

– Majalah Adz-Dzakiirah Al-Islamiyyah edisi 099 Th. II.1425 H

– Majalah As-Sunnah edisi 05/VI/1423H

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.