Bolehkah Muslimah Shalat Tarawih Di Masjid?

  • Whatsapp

Ramadhan telah tiba. Salah satu ibadah yang istimewa di bulan Ramadhan yakni shalat tarawih. Pertanyaannya, apakah seorang muslimah boleh melakukan shalat tarawih berjamaah di masjid?

Bagi seorang perempuan, shalat di rumah lebih utama dibandingkan shalat di masjid, baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah, termasuk di dalamnya shalat tarawih. Bahkan, makin tersembunyi daerah shalat seorang wanita, maka hal tersebut lebih utama. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاةُ الْمَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا وَصَلاتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاتِهَا فِي بَيْتِهَا

Shalatnya seorang perempuan di kamarnya lebih utama dibandingkan dengan shalatnya di ruang tengah rumahnya. Dan shalatnya seorang perempuan di ruangan kecil di dalam kamarnya lebih utama dari shalatnya di kamarnya” (HR. Abu Daud no. 570, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Daud).

Meskipun demikian, seorang perempuan diperbolehkan shalat di masjid dan tidak tidak boleh dikala beliau meminta izin untuk pergi ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَمْنَعُوا إِماءَ اللهِ مساجِدَ اللهِ

Janganlah kalian larang para perempuan hamba Allah untuk pergi ke masjid Allah” (HR. Bukhari no. 900 dan Muslim no. 442).

Bahkan, kadang-kadang perempuan lebih utama shalat tarawih di masjid bila terdapat maslahat yang lebih besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyampaikan, “Shalat tarawih seorang wanita di rumahnya itu lebih utama. Akan namun, jikalau shalatnya di masjid lebih semangat dan lebih khusyu’, serta dia cemas bila shalatnya di rumah tidak khusyu’ maka shalat di masjid lebih utama baginya.” (Sumber: https://islamqa.isu/ar/222751)

Syaikh Ibnu Baz juga mengatakan hal yang senada, “Dianjurkan bagi perempuan untuk shalat tarawih di masjid kalau dia khawatir akan tertimpa rasa malas dikala shalat di rumah. Apabila wanita tersebut tidak terkena malas, maka shalat di rumah lebih utama. Namun, jikalau ada hajat yang mendorong seorang perempuan untuk shalat di masjid, maka tidak mengapa. Dahulu para shahabiyat shalat lima waktu bareng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi ia bersabda, ‘Shalat di rumah kalian lebih baik bagi kalian.’ Akan namun, sebagian perempuan merasa malas dan lemah dikala shalat di rumah. Apabila seorang perempuan pergi menuju masjid dengan memakai hijab tanpa berhias, dengan niat shalat jama’ah dan menyimak faidah dari ulama’ maka dia menerima ganjaran sebab ini yakni tujuan yang anggun.” (Sumber: https://islamqa.gosip/ar/222751)

Akan tetapi, seorang perempuan yang hendak pergi ke masjid perlu memperhatikan beberapa budpekerti. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyebutkan beberapa syarat bolehnya seorang perempuan pergi ke masjid.

1. Memakai hijab yang sempurna

Allah Ta’ala berfirman:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke badan mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali , karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

2.Keluar tanpa memakai parfum

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا شهِدتْ إحداكن المسجدَ فلا تمسَّ طِيبًا

Jika salah seorang dari kalian (wanita) tiba ke masjid, maka janganlah memakai pewangi” (HR. Muslim 443).

3.Mendapatkan izin suami

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

Jangan kalian larang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, kalau mereka telah minta izin kepada kalian” (HR. Muslim no. 442).

4.Tidak melakukan tindakan yang haram mirip berdua-duaan dengan sopir yang bukan mahram di kendaraan beroda empat atau selainnya.

Apabila seorang wanita meninggalkan salah satu dari poin di atas, maka suami atau wali berhak bahkan wajib untuk melarang wanita tersebut untuk pergi ke masjid. (Sumber: https://islamqa.isu/ar/3457)

Di kawasan yang lain, Syaikh Bakar Abu Zaid di dalam kitabnya Hirasatul Fadhilah memperlihatkan beberapa kriteria yang lebih rinci.

1. Aman dari fitnah, baik seorang laki-laki yang terfitnah dengan wanita tersebut, atau sebaliknya, wanita tersebut terfitnah dengan laki-laki.

2. Kehadiran wanita tersebut di masjid tidak berpengaruh adanya pelanggaran syariat.

3. Tidak berdesak-desakan dengan pria baik di jalan menuju masjid maupun di dalam masjid.

4. Keluar menuju masjid tanpa memakai minyak wangi.

5. Memakai hijab tanpa berhias dengan tambahan sedikit pun ketika keluar menuju masjid.

6. Tersedia pintu khusus bagi perempuan di masjid sehingga beliau masuk dan keluar masjid lewat pintu tersebut. Hal ini sebagaimana hadits yang shahih di dalam Sunan Abu Dawud dan selainnya.

7. Shaf perempuan berada di belakang shaf laki-laki.

8. Shaf terbaik bagi perempuan ialah yang paling belakang, bertentangan dengan pria.

9. Apabila hendak mengingatkan kesalahan imam saat shalat, maka laki-laki dengan mengucapkan tasbih sedangkan perempuan dengan menepuk telapak ajudan ke punggung tangan kiri.

10. Wanita keluar dari masjid sebelum pria dan wajib bagi pria untuk menunggu sampai wanita sudah sampai ke rumahnya masing-masing. Hal ini sebagaimana di dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha di dalam Shahih Bukhari dan selainnya.” (Sumber: https://islamqa.gosip/ar/49898)

Kesimpulannya, muslimah diperbolehkan shalat berjama’ah di masjid. Bahkan kadang kala dianjurkan kalau terdapat maslahat yang lebih besar. Meskipun begitu, beliau perlu memperhatikan beberapa akhlak saat hendak pergi ke masjid. Wallahu Ta’ala A’lam.

***

Penulis: Deni Putri Kusumawati

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.