Bederma Dengan Pandai

  • Whatsapp

Berinfak dengan tulus adalah ibadah yang sungguh dicintai Allah Ta’ala . Bukti faktual seorang mukmin bertakwa yang mengeluarkan hartanya di jalan yang mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin. Bahkan, dengan berinfak bergotong-royong kebaikan atau pahalanya akan berguna untuk dirinya sendiri yang kelak di darul baka akan ditampakkan oleh Allah Ta’ala. Iya, hakikatnya nya simpanan atau investasi yang menolong kita di hadapan Sang Pencipta. Ketika berinfak tepat target, pasti kebaikan akan mampu dicapai seorang mukmin.

Imam al-Ghazali rahimahullah berkata: “Sebaiknya orang yang mau beramal menyalurkan sedekahnya tepat target, adalah terhadap andal agama dan berupaya mengoreksi secara teliti kondisi orang-orang, baik yang hidup berpura-pura cukup yang menyembunyikan dan merahasiakan kekurangannya, tidak banyak berkeluh kesah dan tidak mengadukan kemiskinannya. Atau ia termasuk orang yang sungguh menjaga harga diri, sementara telah terkuras habis kekayaannya, tetapi ia masih berada pada kebiasaan semula, sehingga dia hidup memakai jilbab basa-amis. Maka menyalurkan infak terhadap mereka akan menerima akhir pahala berlipat ganda daripada diberikan terhadap mereka yang terang-terangan meminta-minta. Begitu juga sebaiknya seorang hamba menyalurkan sedekahnya kepada orang-orang yang mampu mempergunakan secara baik, misalnya para hebat ilmu. Sebab, hal ini bisa menjadi derma baginya dalam mencar ilmu alasannya adalah mencari ilmu ialah ibadah yang paling mulia, asal niatnya benar.” Ibnu al-Mubarok selalu mengkhususkan infaknya kepada para andal ilmu. Ketika ia ditanya, “Mengapa tidak engkau berikan terhadap orang secara biasa ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya saya tidak mengetahui kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada kedudukan para ulama. Jika pikiran para ulama sibuk mencari kebutuhan (hidupnya) maka ia tidak bisa konsentrasi sepenuhnya kepada ilmu dan tidak konsentrasi dalam berguru. Maka membuat mereka bisa mempelajari ilmu secara konsen lebih utama.” (Dinukil dari Tafsir al-Qasimi, 3/250)

Dari penjelasan di atas dapat diambil sebuah faedah ilmu bahwa infak lebih berkhasiat saat diberikan kepada orang miskin yang mempertahankan diri dari meminta-minta dan kepada penuntut ilmu syar’i.

Memberi infak pada penuntut ilmu

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata: “Dahulu ada dua orang saudara pada kurun Rasulullah, salah seorang mendatangi Nabi (untuk mencar ilmu), sementara saudaranya melakukan pekerjaan . Lalu saudaranya yang melakukan pekerjaan itu mengadu kepada Nabi, maka Nabi bersabda: “Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan karena dia.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2346] dan al-Hakim dalam Mustadrak-nya [320], shahih)

Al-Mubarakfury rahimahullah mengambarkan sabda Nabi, ialah “Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan karena dia” yang menggunakan shigat majhul (kata kerja pasif) seolah ingin berkata, “Yakni, saya berharap atau aku takutkan bahwa engkau bahu-membahu diberi rezeki sebab sebab keberkahan saudaramu. Namun, saudaramu itu diberi rezeki karena karena usahamu. Maka hendaknya jangan kamu mengungkit-ungkit pemberianmu.” (lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)

Orang yang menginfakkan hartanya untuk para penuntut ilmu, ia akan mendulang banyak pahala, amalnya akan memperberat timbangan nya di segi Allah Ta’ala . Menfasilitasi para penuntut ilmu biar lebih fokus mencar ilmu yaitu bentuk ta’awun dalam kebaikan.

Memberi infak terhadap orang miskin yang menjaga diri dari meminta-minta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya: “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain agar diberikan sesuap atau dua suap masakan dan satu dua butir kurma.” Para teman bertanya, “Ya Rasulullah, (jika begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Beliau menjawab, “Mereka ialah orang yang hidupnya tidak berkecukupan, dan tidak ada yang menyadari (kemiskinannya) sehingga tidak ada yang memberinya sedekah (zakat), dan mereka tidak inginmeminta-minta sesuatupun terhadap orang lain.” (HR. Al-Bukhari [1479], Muslim [1039, 101])

Uang atau harta yang diinfakkan untuk orang mukmin sebagaimana hadis di atas insyaallah akan sangat menolong mereka untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala . Juga untuk membiayai hidup keluarganya sehingga mampu menjalani kehidupan dengan tercukupinya kebutuhan lahir dan batinnya. Allah Ta’ala berfirman:

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“(Apa yang kamu infakkan) yaitu untuk orang-orang fakir yang terhalang (bisnisnya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak bisa berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menerka bahwa mereka ialah orang-orang kaya sebab mereka mempertahankan diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang elok yang kamu infakkan, sangat, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 273)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Maksudnya, sudah sepatutnya kalian mencari fakir miskin untuk kalian berikan sedekah kepadanya. mereka yakni orang-orang yang terhalang dirinya dari melaksanakan jihad di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala , dan senantiasa taat kepada-Nya, dan mereka tidak mempunyai kesanggupan untuk bekerja, sedang mereka menahan/menjaga diri meminta-minta, yang kalau mereka dilihat oleh orang-orang ndeso, maka pastilah mereka akan menerka (menduga) bahwa mereka orang kaya, alasannya adalah mereka tidak minta-minta secara umum, dan jika mereka harus meminta, mereka meminta karena sangat terpaksa, mereka tidak memaksa dalam memintanya. inilah kelompok fakir miskin yang lebih afdal (utama). Kalian menawarkan infak untuk menyanggupi kebutuhan mereka, membantu mereka terhadap maksud dan tujuan mereka dan kepada jalan kebaikan, dan selaku rasa terima kasih terhadap mereka atas sifat sabar yang mereka miliki, serta (kuatnya) keinginan mereka cuma kepada Allah Maha Pencipta, bukan kepada makhluk. Walaupun demikian, berinfak dalam segala jalan kebaikan dan menutupi semua keperluan di mana saja, maka semua itu yakni kebaikan, dan pahala serta ganjarannya ada di segi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (Taisiiru al-Kariimi ar-Rahman fii Tafsiiri Kalaami al-Mannaan, hlm.116)

Semoga uraian di atas menyemangati kaum muslimin biar beramal secara bakir dan mengamati skala prioritas kebutuhan supaya lebih memiliki kegunaan untuk dirinya dan orang lain.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

1. Kiat-Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan, Yazid Bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa, Bogor, 2015.

2. Mencari Kunci Rizki yang Hilang, Zainal Abidin Syamsudin, Pustaka Imam Abu Hanifah, Jakarta, 2008.

Artikel Muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.