Antara Masalah Dan Galau Menunggu Jodoh

  • Whatsapp

Indahnya saat akad telah dikumandangkan, berjuta doa membanjiri pasangan pasutri baru yang sedang dilanda asmara. Keharmonisan rumah tangga telah terbayang indah nan sarat warna. Euforia walimatul ‘urs semakin memperbesar situasi berbunga-bunga.

Menikah ialah dambaan setiap manusia manusia. Menikah juga tak hanya fasilitas menyalurkan cinta dan nafsu belaka tanpa menuai pahala dari Allah Ta’ala. Menjadi keluarga yang bahagia, penuh dengan rasa cinta dalam rumah tangga yakni impian dan idaman. Sungguh indah bersanding dengan seorang yang didambakan. Maka tidak aneh bila ada yang memasang berlembar-lembar kriteria diajukan demi menerima pasangan yang diimpikan.

Mematok seabrek standar bukanlah hal yang salah, alasannya adalah setiap orang mengidamkan pasangan terbaik selaku pasangan hidupnya demi kebahagiaan rumah tangga kelak. Namun, camkan bahwa kriteria-standar itu bukanlah harga mutlak. Karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Layaknya matahari dan bulan, mereka sama-sama memiliki fungsi sendiri-sendiri. Bulan tiba saat malam datang menunjukkan penerangan dalam kegelapan malam. Pun dengan matahari yang tiba memberikan cahaya terbaiknya untuk menghangatkan bumi pertiwi.

Termotivasi dan berminat menikah hingga meraih level tertentu merupakan anugerah yang indah dari Allah Ta’ala. Dengan menyadari bahwa laki-laki dan wanita merupakan kekuasaan-Nya, Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara gejala kekuasaan-Nya adalah Dia membuat untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu sungguh-sungguh terdapat gejala bagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum: 21).

Menikah ialah hal yang sangat direkomendasikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita berusaha untuk senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

Barang siapa yang tidak senang sunnahku, maka dia bukanlah tergolong umatku.” (HR. Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401).

Berharap pahala dari kehidupan rumah tangga, mendapatkan keturunan yang shalih dan shalihah. Menjadi taman untuk mendirikan syari’at agama pertama bagi anak-anaknya.

Janganlah cita-cita menikah yang telah menghujam dalam hati sirna alasannya terlalu tingginya standar tolok ukur yang diajukan. Jikalau ternyata tidak didapatkan yang sama dengan persyaratan yang diharapkan, maka tidak boleh merugikan dirinya dengan menangguhkan -nunda akad nikah demi menunggu dan menerima yang sama persis dengan keinginannya. Sehingga ia tidak sadar dangan kondisinya sendiri yang sudah berada pada ambang waktu untuk harus menikah. Sungguh hal yang sungguh merugikan bila standar yang diperlukan tertalu tinggi malah menjadi duri bagi dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya.

“Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela, mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?” (Majma’ Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi’r Al-‘Arabi).

Kalimat di atas sudah menyadarkan dan mengajari kita, bahwa tidak mungkin seseorang akan mendapatkan pasangan yang sempurna tanpa cela. Oleh kesudahannya, buat apa menunda pernikahan alasannya terhalang sebuah patokan selangit yang belum sesuai cita-cita?

Seperti istilah yang sering didengar, “Apabila Anda tidak mempunyai mutu sebaik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jangan terlalu berangan tinggi bahwa Anda akan menerima istri mirip ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bilamana Anda bukan mirip ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita sebagaimana Fathimah radhiyallahu ‘anha.”

Alangkah lebih baiknya ketika kita tidak terlampau neko-neko dalam memilih kriteria calon pasangan kita. “Ketika kamu ingin mendapatkan yang shalih, maka shalihahkan dulu dirimu.”, begitu juga sebaliknya. Agar kita senantiasa sadar atas segala kesanggupan dan keterbatasan yang dimiliki. Tidak cuma menuntut tetapi berusahalah menjadi penurut bagi suami kita kelak.

1. Berusahalah menjadi langsung yang selalu terus menerus memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat pada Allah serta Rasul-Nya.

Ingatlah komitmen Allah Ta’ala dalam firman-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari komitmen. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ

وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Wanita-perempuan yang keji yaitu untuk laki-laki yang keji, dan pria yang keji yakni untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-perempuan yang bagus adalah untuk pria yang baik dan pria yang elok ialah untuk perempuan-perempuan yang elok (pula). Mereka (yang dituduh) itu higienis dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26).

2. Perbaiki niat

Tanyakan pada diri sendiri apakah tujuan anda menikah? Karena beribadah? Menunaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menyalurkan impian kondrat manusiawi?

Pasti akan didapat balasan yang berlainan-beda. Sesuai dengan apa tujuan mereka menikah. Namun Allah Ta’ala sudah berfirman dalam kitab-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak membuat jin dan insan melainkan semoga mereka beribadah terhadap-Ku.” (Qs. Adz-Dzariat: 56).

Terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di wajah bumi ini, yakni untuk beribadah terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh hasilnya, telah sepatutnya dalam melaksanakan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal.

3. Bekali diri dengan ilmu

Ketika bahtera rumah tangga sudah melaju jauh, berkibar bak kapal pesiar yang hendak terus berjalan mengarungi samudra kehidupan yang sarat dengan kebahagiaan. Dalam sebuah perjalanan mengarungi samudra pastilah terdapat aneka macam ritangan dan kendala. Ombak yang tiba memukul, hujan, angin, dan angin ribut yang kapan saja mengancam. Oleh karenanya, nahkoda kapal haruslah siap kapanpun rintangan itu datang menghadang. Mustahil seorang nahkoda mampu mengendalikan kapalnya tanpa berbekal ilmu. Begitu pula dengan kita yang sedang menunggu pasangan yang diidamkan. Persiapakanlah diri dengan ilmu-ilmu yang memiliki kegunaan. Agar selalu lebih siap dan bijak dalam merencanakan rumah tangga yang diidamkan bareng pasangan.

Menikah sungguhnya sangat mempertahankan

Menjaga persepsi, hati, lisan, tangan dari yang diharamkan-Nya

Lalu menggunakan untuk menjangkau pahala dan keridhoan-Nya

Bentuk perilakunya sangat sama

Pujian, kebanggaan, sentuhan, perhatian, rindu, cinta

Namun bila tidak dimulai dengan ikatan agama

Semua tindakan itu hanya akan berbuah luka

Bahagiakan diri dengan memulai dengan niat yang suci

Akad yang disaksikan Ilahi

Insya Allah keberkahan akan menghampiri

Semoga Allah Ta’ala mempermudah langkah kita untuk menuju ke jenjang akad nikah, mempertemukan terhadap seseorang yang diidam-idamkan. Allahu a’lam

——————————————-

Penulis : Ummu Shafiyyah Lia Wijayanti Wibowo

Artikel muslimah.or.id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.