Amalan-Amalan Yang Disunnahkan Berwudhu Dikala Melakukannya

  • Whatsapp

Ketika Berdzikir kepada Allah

Berdasarkan hadits al-Muhajir bin Qanfad. Dia mengucapkan salam terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyelesaikan wudhu’nya. Beliau kemudian menjawabnya dan berkata,

إِنَهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرُدُّ عَلَىكَ إِلاَّ أَنِّيْ كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ.

Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawabmu. Hanya saja, saya tidak suka menyebut Nama Allah kecuali dalam kondisi suci”.

Ketika Tidur

Dasarnya yakni apa yang diriwayatkan al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. Dia menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian tidurlah di atas segi kananmu, kemudian ucapkan,

اَللهمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ, وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ, وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ, وَ أَلْجأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ, رَغْبةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ, لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ, اَللهمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ, وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.

Ya Allah, Kuserahkan jiwaku pada-Mu, dan kuhadapkan wajahku pada-Mu. Kupasrahkan urusankau pada-Mu, dan kusandarkan punggungku pada-Mu, dengan suka cita maupun terpaksa. Tidak ada kawasan bersandar dan berlindung dari-Mu kecuali terhadap-Mu. Ya Allah, aku beriman terhadap kitab-Mu yang Kau turunkan. Dan Nabi-Mu yang Kau utus.

Jika engkau meninggal pada malam itu, maka engkau meninggal dalam keadaan fitrah. Dan jadikanlah beliau (dzikir ini) tamat pembicaraanmu”.

Ketika Junub

Disunnahkan berwudhu’ saat hendak makan, minum, tidur, atau mengulang jima’(persetubuhan). Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam junub dan ingin makan, minum, atau tidur ia berwudhu’ sebagaimana berwudhu’ untuk shalat”.

Juga dari Abu Sa’id radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فليتوضأْ.

Jika salah seorang di antara kalian telah mengunjungi istrinya dan ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah berwudhu’”.

Sebelum Mandi; Mandi Wajib maupun Sunnah

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mandi junub, dia memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian ia kucurkan air dari ajudan ke tangan kirinya. Beliau lantas membasuh kemaluannya lalu berwudhu’ sebagaimana berwudhu’ untuk shalat.”

Setelah Makan Makanan yang Tersentuh Api

Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu yang berbunyi, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Berwudhu’lah alasannya adalah mengkonsumsi masakan yang tersentuh api’”.

Perintah ini mengandung makna Sunnah. Dasarnya yakni hadits ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri, dia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengiris paha kambing. Beliau kemudian makan sebagian darinya kemudian mengajak shalat. Beliau berdiri dan menaruh pisau lantas shalat dan tidak berwudhu’”.

Pada Setiap Akan Shalat

Berdasarkan hadits Buraidah radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Dulu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berwudhu’ setiap kali hendak shalat.ketika hari penaklukan (Makkah), dia berwudhu’ dan mengusap sepatunya kemudian melakukan semua shalat dengan satu wudhu’”.

‘Umar berkata padanya, ‘Wahai Rasulullah, Anda melaksanakan sesuatu yang tidak pernah Anda perbuat.’ Beliau berkata, ‘Ini sengaja kulakukan, wahai ‘Umar’”.

Tiap Kali Berhadats

Dasarnya yaitu hadits Buraidah radhiyallahu ’anhu, ia berkata, “Pada suatu pagi hari, Rasulullah shallallhu ’alaihi wa sallam mengundang Bilal dan berkata, ‘Wahai Bilal, dengan apa kamu mendahuluiku ke Surga. Kemarin malam aku masuk Surga dan aku mendengar suara gerakanmu di depanku.’ Bilal berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidaklah aku adzan melainkan shalat dua raka’at sesudahnya. Dan tidakah saya berhadats melainkan berwudhu’ dikala itu juga.’ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata, ‘Karena itulah’”.

Setelah Muntah

Berdasarkan hadits Ma’dan bin Abi Thalhah dari Abu Darda’, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah muntah, kemudian dia berbuka dan berwudhu’.” Kutemui Tsauban di masjid Damaskus dan kuceritakan insiden tadi padanya. Dia kemudian berkata, ‘Benar. Akulah yang menuangkan air wudhu’ ia’”.

Seusai Mengggotong Mayit

Berdasarkan sabda beliau shallallahu ’alaihi wa sallam,

مَنْ غَسَّلَ مَيتًا فَلْيَغْسِلْ, وَمَنْ حَمَلَهُ فليتوضأْ.

Barangsiapa memandikan mayat, maka hendaklah beliau mandi. Dan barangsiapa membawanya, maka hendaklah berwudhu’”.

***

Ditulis ulang dari buku “Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Seakan-akan Anda Shalat bareng dia” (terjemah), penerjemah: Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf, Lc & Ust. Hayik el Bahja, Lc, Penerbit: Media Tarbiyah.

Artikel Muslimah.Or.Id

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.