3 Hal Yang Wajib Ditempuh Sebelum Melaksanakan Kasus Yang Wajib

  • Whatsapp

Seorang hamba kalau bertekad untuk melakukan suatu perkara maka wajib atasnya untuk pertama kali menyaksikan; apakah hal itu tergolong ketaatan terhadap Allah atau bukan?

 

3 Hal Yang Wajib Ditempuh Sebelum Melaksanakan Kasus Yang Wajib

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata:

 

“Seorang hamba kalau bertekad untuk melakukan suatu perkara maka wajib atasnya untuk pertama kali menyaksikan; apakah hal itu tergolong ketaatan terhadap Allah atau bukan?

 

Apabila ternyata hal itu bukan ketaatan hendaklah tidak dia kerjakan. Kecuali kalau hal itu yakni suatu masalah yang hukumnya mubah/boleh-boleh saja dan digunakan untuk membantu terlaksananya ketaatan. Dalam kondisi mirip ini maka sesuatu yang asalnya mubah tadi menjelma bernilai ketaatan.

 

Kemudian jika terlihat terang baginya bahwa hal itu ialah ketaatan, hendaklah beliau melihat kembali hal itu apakah dirinya diberikan santunan/perlindungan dari Allah untuk melaksanakan hal itu atau tidak? Apabila beliau belum atau tidak mendapatkan perlindungan/sumbangan dari Allah untuk melakukannya maka janganlah dia memaksakan diri melaksanakan hal itu alasannya hal itu justru akan menghinakan dirinya sendiri.

 

Apabila beliau mendapatkan tunjangan/tunjangan dari Allah untuk hal itu maka masih ada duduk perkara lain yang mesti diamati; adalah hendaklah dia mengunjungi/memulai tindakan itu dari pintu/jalan yang seharusnya. Karena jikalau beliau menghampiri tindakan dan problem itu tidak melalui pintu/jalan yang semestinya maka beliau niscaya akan menyia-nyiakan, tidak menunaikan haknya, atau bahkan merusak salah satu bab di dalamnya.

 

Ketiga dilema ini yakni pokok kebahagiaan dan sumber keberuntungan hamba. Inilah makna yang tersimpan dalam ucapan hamba ‘Hanya kepada-Mu kami beribadah dan cuma terhadap-Mu kami meminta bantuan. Tunjukilah kami jalan yang lurus’. (QS. Al-Fatihah 5-6).

 

Oleh sebab itu manusia yang paling berbahagia adalah orang yang menegakkan ibadah –ahlul ‘ibadah-, selalu memohon derma Allah –ahlul isti’anah-, dan orang yang menadapatkan curahan hidayah –ahlul hidayah– kepada segala hal yang dituntut. Dan orang yang paling binasa yakni orang yang kehilangan ketiga persoalan ini sekaligus.”

 

Dari keterangan di atas, dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa kebahagiaan itu ditegakkan di atas tiga pilar utama, adalah: Ibadah kepada Allah [baca; tauhid], Isti’anah terhadap Allah [baca; tawakal], Hidayah menuju jalan yang lurus [baca; ilmu dan amal].

3 Hal Yang Wajib Ditempuh Sebelum Melaksanakan Kasus Yang Wajib

Baca Juga : Bagaimana Ruqyah Yang Syar’i

 

Sumber : Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published.