Garis Khatulistiwa

30-09-2009 by: ajengkol

Pontianak atau juga dikenal sebagai City on Equator memiliki banyak keistimewaan. Selain Tugu Bambu Kuning yang melintang di tengah jalan kota ini memiliki Universitas yang cukup terkenal yaitu Universitas Tanjung Pura. Dengan kemauan yang luar biasa akhirnya berdirilah Fakultas Kedokteran yang dikomandoi oleh Prof. Wahyuning Ramelan, tentu saja mendirikan suatu Fakultas Kedokteran bukan hal yang mudah. Supporting staf dan peralatan laboratorium serta Rumah Sakit rujukan merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. FKUI terpilih sebagai Universitas Pengampu, yang kemudian membawa saya untuk beberapa kali harus bolak balik Jakarta~  Pontianak.

(action bersama dosen Rehabilitasi Medik)

City on Equator dengan monumet equatornya ; Potensi utama yang ditonjolkan adalah keberadaan Garis Khatulistiwa yang menjadikan Kota Pontianak terletak di dua belahan bumi, yakni belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Entah kenapa setiap kali terbang ke Pontianak berasa kalau awan itu bagaikan atap rumah ‘berasa pendek’ beda manakala berada di atas Pulau Jawa. Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan. Femonema Garis Khatulistiwa manakala posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan “menghilang” beberapa detik saat diterpa sinar matahari. Peristiwa titik kulminasi garis khatulistiwa ini terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

(action with my boss ‘Prof. Saleha’)

Selain itu tetap dipertahankan pada objek cagar budaya yang telah ada, yaitu Mesjid Jami, Keraton Kadriah dan Makam Kesultanan Pontianak di Batulayang. Belum lagi tempat kuliner Restaurant terapung di Sungai Kapuas yang ekosistemnya mulai terancam sekaligus merupakan sungai terpanjang di Kalimantan merupakan tempat romantis karena perahunya dihiasi lampion ala china. Hidangan hasil laut ’sea food’ yang masih segar membuat air liur menetes manakala disajikan sambil menatap hamparan sungai yang sesekali awak kapal harus menyingkirkan bongkahan kayu yang menghadang oleh ulah para oknum ilegal logging yang tidak bertanggung jawab. Sensasi kuliner ini saat menjelang sunset menjadi momen yang sering yang paling mengesankan sambil menikmati santap Kepiting Saus Tiram di atas perahu.

Menyebut nama Pontianak tidak terlepas dari bubur pedas yang sangat nikmat (tapi kalau melihatnya mungkin ada yang berasa “ih bubur kok campur aduk begini”) tapi kata Bondan maknyos, jeruk Pontianak yang berlimpah ruah dan pisang goreng Pontianak yang terkenal. Selain itu ada makanan dan minuman khas lainnya yang patut di cicipi seperti manisan lidah buaya yang segar, tales goreng yang renyah, cake Legita yang lumer di lidah. Pokoknya perjalanan dinas ke Pontianak menyisakan banyak kenangan ‘I will be back someday’

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogosphere News
  • HelloTxt
  • LinkedIn
  • Live
  • Ping.fm
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
Filed under: Diary
Tags: , ,

29 Comments

(Required)
(Required, will not be published)
CommentLuv Enabled